RembangSejarah

Tradisi Mbesik: Membersihkan Makam Jelang Ramadan

Setiap tahun jelang datangnya Bulan Ramadan, warga Desa Ketanggi Kecamatan Rembang memiliki sebuah tradisi unik yaitu Mbesik. Mbesik pada dasarnya adalah tradisi turun temurun untuk menghormati leluhur dengan cara membersihkan makam para leluhur.

Dahulu, tradisi ini umum dilakukan oleh kaum pria di Desa tetapi saat ini kaum wanita pun ada yang ikut dalam tradisi ini.

Baca Juga : Tradisi Maritim di Rembang dalam Catatan Sejarah

Asal Usul Tradisi Mbesik

Berdasarkan asal bahasanya, Mbesik berasal dari kata resik yang artinya bersih. Bersih hati bagi yang hidup begitu pula bersih bagi mereka yang telah tiada.

Tidak ada yang tahu pasti kapan tradisi ini dimulai karena tidak ada catatan sejarah yang dapat dijadikan referensi. Namun, beberapa generasi telah melakukan ini sebagai cara untuk menghormati orang tua, kerabat, dan leluhur yang telah meninggal.

Sejumlah pendapat mengatakan bahwa tradisi ini berawal sejak zaman Hindu-Buddha sebelum Islam masuk ke Jawa. Semula tradisi ini diisi oleh ritual sesaji dan doa persembahan untuk menghormati leluhur. Lalu, semenjak Islam masuk ke tanah Jawa, tradisi ini mulai mengalami pergeseran. Ritual sesaji dan doa-doa persembahan itu berganti dengan lantunan ayat Al-Quran dan doa yang sesuai dengan ajaran Islam.

Sebagian orang meyakini bahwa pergeseran tradisi ini merupakan andil besar dari Wali Songo.

Rangkaian Kegiatan dan Spiritualitas

Tradisi Mbesik secara umum terdiri dari serangkaian kegiatan, yaitu pembersihan makam, tabur bunga, dan membacakan doa untuk ahli kubur. Terkadang ada pula keluarga yang datang secara rombongan untuk mbesik sekaligus bancakan.

Bagi warga desa, tradisi ini adalah bentuk bakti kepada leluhur dan juga sebagai pengingat kematian bagi mereka yang masih hidup. Selain itu, Tradisi ini menjadi sebuah momen untuk lebih taat terhadap perintah Sang Pencipta dan bersyukur atas umur dan rezeki yang dianugerahkan.

Di Daerah lain, Tradisi membersihkan makam dikenal dengan istilah Nyandran. Meskipun secara istilah keduanya berbeda tetapi memiliki kesamaan makna dan nilai.

Seperti halnya tradisi yang lain, banyak tantangan yang dihadapi oleh tradisi ini. Kemajuan zaman dan modernisasi nyatanya menjadi tantangan besar yang sewaktu-waktu dapat mengikis tradisi luhur ini. Padahal jika kita renungkan, tradisi luhur adalah sebuah penghubung antar zaman dan peradaban. Semoga tradisi ini tetap dapat bertahan meski diterpa tantangan kedepan sebagaimana ia mampu bertahan dari tantangan di masa lalu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button