HUT Rembang 281OpiniPilihanRembang

Tradisi Maritim di Rembang dalam Catatan Sejarah

Hampir semua orang tahu dan meyakini bahwa nenek moyang bangsa Indonesia adalah pelaut-pelaut handal. Ketangguhan para pelaut zaman itu tak perlu diragukan karena bangsa Eropa dan Asia lain mencatat bahwa memang leluhur kita dan bangsa kita adalah Bangsa Pelaut alias Bangsa Maritim. Salah satu bukti ini ditulis oleh seorang penjelajah dari Tiongkok bernama Fa Xian. Dalam peejalanannnya kembali ke Tiongkok pada tahun 414 Masehi, Fa Xian menumpang perahu besar yang sanggup menampung 200 orang.

Selain catatan bangsa asing, pada candi Borobudur juga terdapat relief kapal besar yang memiliki kemudi samping dan cadik pada sisinya. Terdapat beberapa teori yang berbeda mengenai peran Perahu Borobudur ini dalam Tradisi Maritim Nusantara. Namun yang jelas bukti relief ini menguatkan bahwa tradisi maritim Nusantara sudah ada ratusan tahun yang lalu. Hal ini nampaknya sangat sesuai ketika kita hubungkan dengan kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari ribuan gugusan kepulauan. Bentang alam dan kondisi laut yang beragam membuat teknologi perkapalan di Nusantara saat itu berkembang pesat bahkan bisa jadi mendahului peradaban perkapalan dunia Barat.

Baca Juga : Pengelolaan Sampah di Rembang, Masalah dan Solusi

      Upaya untuk Mengatasi Defisit Air Bersih di Rembang

                                                                    Tradisi Mbesik: Membersihkan Makam Jelang Ramadan

Tradisi Mbesik: Membersihkan Makam Jelang Ramadan

Awal Mula Tradisi Maritim di Rembang

Letak geografis Rembang yang berada di pesisir utara Jawa membuatnya menjadi tempat yang strategis sebagai jalur perdagangan. Pada zaman itu, kapal adalah satu-satunya armada yang mampu menghubungkan pulau dan benua di seluruh dunia. Zaman itu pula banyak pusat pembuatan dan bengkel Kapal di sepanjang pesisir utara Jawa termasuk Rembang.

Sebelum kedatangan bangsa Eropa, Lasem masih menjadi vassal Majapahit yang diperintah oleh seseorang yang bergelar Bhre Lasem. Pemerintahan Bhre Lasem itu sendiri dapat diketahui dalam Carita Sejarah Lasem atau Babad Tanah Lasem. Pada masa ini tidak banyak cacatan sejarah yang memuat tradisi pembuatan kapal di Rembang. Baru pada tahun 1512, Alfonso de Alburqueque berlayar dari Malaka ke Lasem dan kembali dengan membawa puluhan pembuat perahu dari Lasem.

Pada abad ke-15 dan 16 diperkirakan lokasi utama pembuatan perahu-perahu berukuran besar di pesisir utara Jawa berada di Rembang dan Cirebon. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi pembuatan perahu sudah dimiliki oleh masyarakat Rembang.

Baca Juga : Dampo Awang : Cerita Rakyat Rembang yang Melegenda

Tradisi Maritim di Masa Pendudukan VOC

Catatan sejarah pembuatan perahu di Rembang selanjutnya lebih banyak ditemukan dari sumber-sumber Belanda. Perjanjian damai di tahun 1651 antara VOC dan Mataram yang dipimpin Amangkurat I menjadikan VOC semakin leluasa untuk mendirikan kantor-kantor di pesisir utara Jawa. Salah satu Lokasi tersebut berada di Rembang.

Rembang dan Lasem disebutkan sebagai pusat perbengkelan dan pembuatan perahu dagang dan perahu perang untuk VOC. Hal ini dikarenakan sumber daya hutan dan kayu jati tersedia melimpah sekaligus juga letaknya yang tidak jauh dari pesisir utara Jawa.

Meskipun memiliki sumber daya yang melimpah, nyatanya pembuatan perahu dan perdagangan sempat mengalami kemunduran. Hal ini disebabkan oleh keputusan Mataram yang berkeinginan untuk menguasai seluruh pulau Jawa dan memusatkan kegiatan perdagangan ke Jepara. Monopoli yang dilakukan oleh Mataram ditengarai sebagai sebuah langkah politik untuk menjaga kekuasaanya di Nusantara ditengah perseteruhan yang terjadi saat itu.

Kondisi ini menyebabkan banyak pedagang memilih untuk menghindari konflik dan berpindah ke bandar-bandar lain yang lebih aman seperti di Makassar, Banten, dan Batavia. Banyaknya pedagang yang meninggalkan Lasem ini membuat pekerjaan pembuat perahu menjadi surut.

Saat terjadi peristiwa Perang Kuning, tidak banyak informasi yang diketahui mengenai pembuatan perahu. Hanya saja diketahui bahwa produksi perahu di Dasun terus berjalan. Penetapan aturan oleh Deandels pada tahun 1808 yang menghapus hak milik umum atas hutan, membuat biaya pembuatan perahu menjadi berkali-kali lipat dari sebelumnya. Selanjutnya, pembuatan perahu hingga awal abad ke-20 dikuasai oleh perusahaan swasta dari Eropa.

Tradisi Maritim Pasca VOC

Ketika Jepang masuk dan menguasai pesisir utara Jawa, secara otomatis semua pelabuhan dan bengkel diambil alih untuk keperluan perang Jepang. Periode ini terbilang singkat karena hanya dalam waktu beberapa tahun, perang dunia II berakhir dan Jepang kalah.

Setelah Perang Dunia II, Industri Pembuatan perahu di Dasun yang dikelola oleh Belanda terhenti. Meski begitu, pembuatan perahu tetap berlanjut oleh para pembuat perahu tradisional. Para pembuat perahu ini banyak yang berpindah ke Sarang dan Kragan.

Tradisi Maritim Masa Sekarang

Para pembuat perahu yang masih aktif di Sarang dan Kragan menyampaikan bahwa usaha pembuatan perahu telah dijalankan secara turun temurun setidaknya sejak 1960 an. Perahu yang dibuat paling banyak adalah jenis perahu Mayang dan Pencalang. Dua model perahu ini adalah hasil dari penggabungan teknologi perahu Nusantara dan perahu Eropa yang menjadikannya sangat cocok untuk digunakan di perairan Jawa.

Bengkel Perahu di Sarang

Satu hal yang unik dari pembuatan perahu di Rembang adalah pembuatan perahu dilakukan tanpa menggunakan gambar kerja. Keahlian ini menunjukkan penguasaan teknologi perahu yang telah tertanam di dalam diri para pembuat perahu di Rembang.

Sama halnya dengan industri lain, permasalahan juga dihadapi oleh para pembuat perahu tradisional di Rembang. Persaingan bisnis dengan kapal-kapal modern dan biaya produksi yang tinggi adalah masalah utama dari industri ini. Saat ini yang bisa dilakukan oleh para pembuat kapal tradisional adalah berusaha untuk mengikuti perkembangan teknologi perkapalan sambil menyesuaikan permintaan para pemesan kapal buatan mereka.

Pada akhirnya satu harapan kita bahwa tradisi pembuatan perahu ini akan terus bertahan dan berkembang hingga masa yang akan datang seperti halnya ia telah berhasil bertahan dari segala hambatan yang ada di masa lalu.

Sumber : Purnawibawa, Ahmad. (2021). Tradisi Maritim Rembang (The Prau Maritime Project). 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button