HUT Rembang 281RembangRembang Hari Ini

Rembang Kian Modis

Jika mengamati Rembang dalam dua tahun belakangan mungkin salah satu kesimpulan yang diambil adalah muda-mudinya kini makin cakap bergaya. Fesyen mereka sudah terpengaruhi media sosial, persis seperti tren makanan viral, gaya berpakaian sekarang juga banyak berkiblat pada sesuatu yang sedang viral.

Untuk membuktikannya coba tengok jalanan di pusat kota atau di tempat nongkrong kekinian atau sempatkan menjelajah media sosial (direkomendasikan Instagram) dengan tagar Rembang. Pasti akan banyak dijumpai anak-anak muda yang tampil prima dalam urusan berbusana. Para lelaki muda dengan flanel dan celana jeans. Banyak juga yang mengenakan kaos hitam, jeans hitam lengkap dengan sepatu sneakers. Para wanita-wanita muda lebih beragam gayanya. Kebanyakan mengkombinasikan tunik, jeans, kulot dan semacamnya dengan kemeja warna polos (hitam atau putih), crop top, kaos, turtle neck, sweater dan semacamnya.

Rembang yang Kian Modis ini harusnya diapresiasi lebih. Selain membuat visual kota Rembang jadi lebih enak dipandang, mereka adalah generasi muda yang berani berekspresi. Karena fesyen sendiri merupakan salah satu cara untuk menunjukkan jati diri.

Media sosial dan narsistik

Teknologi digital dan media sosial berhasil mengaburkan batasan-batasan yang selama ini membelenggu mereka yang ingin bergaya metropolitan tapi hidup di kabupaten. Membeli busana dan aksesoris sekarang semakin mudah dan cepat. Kegemaran mengulik busana juga semakin langgeng berkat tren tagar OOTD (outfit of the day). Semua ini kemudian bermuara pada apresiasi pengguna media sosal tentang look atau visual sesorang yang pada akhirnya menjadi dorongan terbesar orang mengeluarkan biaya untuk bisa tampil baik berbusana.

Pujian “cantik banget kak” atau “kok gntng bgt sih” di berbagai kanal media sosial adalah candu. Kita semua punya ego narsistik dan disalurkan dengan cara masing-masing. Bagi mereka yang menaruh ego pada pujian visual tentu akan “kenyang” jika mendapat pujian semacam itu dan akan terus-terusan memposting foto atau video tentang ootd dan semacamnya.

Penuhnya ego tentu akan menjadi pendorong kuat hasrat untuk membeli busana baru, sepatu baru, tas baru atau aksesoris lainnya yang mendukung gaya. Puncaknya, akan ada masa di mana mereka merasa kehabisan outfit padalah di lemari menumpuk pakaian yang bisa dipakai kembali.

Geliat UMKM Fesyen Lokal

Dari banyak dampak dari Rembang yang semakin hari semakin modis tentu saja potensi tumbuhnya UMKM fesyen lokal yang patut disorot. Dari pantauan tim Kalasela ada beberapa toko yang mungkin menjadi favorit, seperti Fun Hijab dan BestLook Outfit untuk wanita dan Bloods para lelakinya. Di luar itu tentu saja ada toko-toko Shopee, Tokopedia dan e-commerce lainnya yang tidak disebutkan satu-satu.

Selain itu banyak juga yang mengambil peluang menjadi reseller dari sebuah jenama atau bisnis yang sudah ada. Gerakan gemar bergaya ini juga mendorong banyak bisnis thrift shop yang memanfaatkan populernya kegiatan thrifting atau berbelanja pakaian bekas yang masih berkualitas dengan harga yang bersaing. Tengok saja RembangThriftMarket dan aurora.thrift_, atau beberapa akun fesyen lain di Rembang. Mereka bermunculan bukan karena pemiliknya iseng, tetapi ada demand yang bertumbuh di sana.

Eksplorasi kreativitas berbusana

Kreativitas para muda-mudi Rembang dalam berbusana bisa jadi peluang besar untuk membuat kota ini punya tren fesyen sendiri. Upaya ini bukan tentang bagaimana semata-mata memaksa muda-mudi ini memakai batik Lasem, tetapi menciptakan tren baru yang “Rembang banget”. Tren yang bisa mengkomunikasikan budaya Rembang melalui media tren busana.

Salah satu contohnya yang sedang berkembang adalah tren ke pantai pakai jeans atau tunik alih-alih bikini seperti pantai-pantai lain di Indonesia. Mereka berhasil tetap menjaga budaya lokal tapi tetap total dalam bergaya.

 

Artikel ini ditulis oleh Chief Creative Kalasela.id Prayogo Ryza.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button