Business

PHK Massal Industri Tekstil, Pertanda Apa?

Kalasela.id– Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal di industri tekstil Indonesia semakin mengkhawatirkan. Sejak awal tahun 2024, puluhan ribu pekerja kehilangan pekerjaan mereka, dan jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat. Fenomena ini tidak hanya memengaruhi kesejahteraan pekerja dan keluarga mereka, tetapi juga mencerminkan kondisi industri tekstil yang tengah terpuruk. Apa yang sebenarnya terjadi di balik krisis ini? Apakah ini sekadar gejolak sementara atau ada masalah yang lebih mendalam yang mengancam masa depan industri tekstil Indonesia?

Permendag Nomor 8 Tahun 2024

Salah satu pemicu utama dari gelombang PHK ini adalah Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 8 Tahun 2024. Kebijakan ini dianggap lebih berpihak pada importir umum daripada mendukung upaya peningkatan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) domestik. Menurut Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), kebijakan ini membuka keran impor produk tekstil secara besar-besaran, sehingga produk-produk garmen impor membanjiri pasar Indonesia.

Danang Girindrawardana, Direktur Eksekutif API, menegaskan bahwa Permendag ini akan merusak industri tekstil dalam negeri. Tanpa perlindungan yang memadai, industri tekstil Indonesia tidak mampu bersaing dengan produk impor yang lebih murah. Akibatnya, banyak pabrik yang terpaksa tutup dan ribuan pekerja harus di-PHK. Jika pemerintah tak segera merevisi kebijakan ini, ia memperkirakan akan ada 120 ribu pekerja yang kehilangan pekerjaan dalam satu tahun ke depan.

Pelemahan Rupiah dan Efek Domino

Krisis ini tidak hanya berdampak pada perusahaan dan pekerja, tetapi juga menimbulkan efek domino pada perekonomian dan sosial masyarakat. Menurut Redma Gita Wirawasta, Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat Benang Filament Indonesia (APSyFI), pelemahan nilai tukar rupiah dan kesulitan akses modal kerja turut memperparah kondisi industri tekstil. Biaya bahan baku yang mereka beli dalam dolar semakin mahal, sementara daya beli masyarakat yang melemah membuat produk tekstil lokal sulit terjual.

Sejak tahun 2022, industri tekstil terpaksa mengurangi hampir 100 ribu pekerja. Tahun 2023 bahkan mencatat pertumbuhan negatif untuk sektor ini. Banyak perusahaan tekstil kini beroperasi di bawah kapasitas penuh, hanya sekitar 45%. Beberapa perusahaan dengan cashflow yang kuat mungkin masih bisa bertahan, tetapi bagi perusahaan yang orientasinya hanya pada pasar lokal, bertahan menjadi sangat sulit.

Masa Depan Industri Tekstil Masih Tanda Tanya

Menghadapi situasi ini, industri tekstil membutuhkan intervensi pemerintah yang tepat sasaran. Kebijakan yang lebih mendukung industri lokal, peningkatan akses modal kerja, serta stabilitas nilai tukar rupiah menjadi kebutuhan mendesak. Selain itu, peningkatan kualitas produk tekstil dalam negeri dan diversifikasi pasar ekspor bisa menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada pasar lokal yang saat ini tertekan oleh produk impor murah.

Di sisi lain, pelaku industri juga perlu beradaptasi dengan perubahan global dan meningkatkan efisiensi produksi. Investasi dalam teknologi dan inovasi produk bisa menjadi kunci untuk bertahan dalam persaingan yang semakin ketat. Pemerintah, industri, dan pekerja harus bekerja sama untuk menciptakan ekosistem yang mendukung keberlanjutan industri tekstil di Indonesia.

Nah, bagaimana menurutmu? Apakah industri tekstil Indonesia masih memiliki masa depan yang cerah? Ataukah justru PHK massal yang terjadi di industri tekstil ini menjadi pertanda buruk bagi perekonomian nasional? Bagikan pendapatmu di kolom komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (1) in /home/kalasela/public_html/wp-includes/functions.php on line 5427

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (1) in /home/kalasela/public_html/wp-includes/functions.php on line 5427