Rembang

Penutupan Jalan Diperpanjang?

Aturan PPKM-Darurat di Kabupaten Rembang semakin diperketat. Penutupan jalan yang semula hanya dilakukan di ruas jalan sekitar Alun-alun Rembang kini dilakukan juga di beberapa ruas jalan lainnya. Hingga saat ini, ada empat ruas jalan yang ditutup yaitu Jl. dr. Soetomo, Jl. RA Kartini, Jl. Pemuda ,dan Jl. Selamet Riyadi.

Selain menambah jumlah ruas penutupan jalan, durasi pemberlakuan penutupan juga diperpanjang. Semula aturan penutupan ruas jalan berlaku mulai dari pukul 20.00 WIB hingga pukul 05.00 WIB, namun saat ini penutupan ruas jalan tersebut berlaku 24 jam.

Menurut Kasatlantas Polres Rembang, penutupan ruas jalan ini guna mengurangi mobilitas masyarakat sampai tanggal 20 Juli 2021. Dalam kesempatan yang lain, Kapolres Rembang menyatakan bahwa terjadi penurunan kasus aktif Covid-19 di Rembang setelah pemberlakuan penyekatan dan pembatasan. Perlu diketahui bahwa pada tanggal 1 Juli 2021 terdapat 780 kasus aktif kemudian turun menjadi 533 kasus aktif. Lalu apakah kebijakan ini benar-benar mampu menurunkan laju penularan Covid-19 ? atau justru berdampak negatif bagi masyarakat?

Menjawab hal ini, saya teringat perkataan dr. Faheem Younus ketika ditanya tentang makanan dan minuman yang mampu membasmi Covid-19. Menurut beliau, seorang pasien Covid-19 yang sembuh setelah makan semangka tidak membuktikan bahwa semangka mampu menyembuhkan pasien dari Covid-19. Dalam kasus penyekatan dan pembatasan mungkin juga berlaku hal yang serupa.

Meskipun penurunan kasus Covid -19 terjadi setelah penyekatan dan pembatasan, bukan berarti hal tersebut adalah alasan kuat yang menyebabkan turunnya kasus covid ini. Bisa jadi penurunan ini karena ada hal lain yang jauh lebih berpengaruh dari pada penyekatan dan pembatasan. Oleh karena itu, kebijakan ini perlu dikaji ulang dan apabila perlu diganti dengan kebijakan yang nyata-nyata berdampak besar terhadap penurunan Covid-19. Selain belum ada pembuktian ilmiah, kebijakan ini justru diprotes oleh sejumlah masyarakat.

Mengutip Inews Jateng, sejumlah masyarakat ini berpendapat bahwa penutupan jalan ini menambah kesusahan para pedagang setelah sebelumnya ada kebijakan pembatasan jam buka . Seorang pedagang kaki lima menyatakan bahwa dagangannya sepi semenjak penutupan jalan yang berlaku sepanjang hari tersebut. Ia menambahkan juga bahwa tidak mudah untuk pindah lokasi saat ini. Protes masyarakat juga tampak di media sosial, mereka berpendapat bahwa penutupan jalan akan mempersulit  pekerja harian yang setiap hari menggunakan jalan-jalan tersebut sebagai akses utama.

Kami menyadari bahwa kebijakan ini dilakukan atas dasar upaya untuk melindungi masyarakat dari bahayanya Covid-19. Namun, kita juga harus melihat seberapa besar dampak dari pemberlakuan aturan ini kepada masyarakat. Sangat mungkin jika sebuah kebijakan yang memiliki tujuan baik namun tidak melalui kajian yang matang justru akan merugikan masyarakat. Melihat tanggapan masyarakat yang terdampak tentu dapat menjadi bahan evaluasi dan masukan bagi pelaksana kebijakan ini.

Jika memang kebijakan ini sangat penting untuk dilaksanakan maka perlu adanya perbaikan dalam pelaksanaannya. Misalnya dengan menetapkan aturan pengecualian untuk beberapa kategori yang boleh melewati penutupan jalan. Selain itu, para pedagang yang dinilai terdampak dapat diberikan lahan jualan yang baru dengan pengawasan dan penerapan protokol kesehatan yang ketat. 

Pada intinya semua kebijakan yang dijalankan jangan sampai memberatkan masyarakat yang sudah susah. Apalagi ada wacana untuk memperpanjang masa PPKM-Darurat hingga 6 pekan. Tentu di situasi pandemi ini kita harus saling bantu dan berperan. Masyarakat saling bantu dan pemerintah juga melaksanakan aturan beserta solusinya. Keadaan yang sulit ini akan tampak ringan jika kepedulian menjadi dasar dari tindakan kita. Salam.

Gambar: Pixabay

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button