Ilustrasi oleh Pixabay

Pengelolaan Sampah di Rembang, Masalah dan Solusi

Masalah yang dihadapi di perkotaan tidak hanya sebatas keterbatasan lahan dan air bersih. Ada satu masalah lagi yang sadar atau tidak menjadi penting untuk diselesaikan yaitu  pengelolaan sampah. Setiap individu sejatinya selain membutuhkan sandang, pangan, dan papan juga membutuhkan lingkungan yang bersih , sehat dan nyaman. Salah satu indikator kebersihan dan kenyamanan adalah bebas dari sampah.

Namun, dengan luas tanah perumahan kota yang relatif sempit sangat susah untuk rumah tangga perkotaan mengelola sampahnya sendiri. Untuk itu, sampah perumahan akan diangkut oleh petugas sampah ke pembuangan akhir sampah. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana suatu daerah mengelola sampahnya yang berasal dari rumah tangga dan industri?

Baca Juga : Upaya untuk Mengatasi Defisit Air Bersih di Rembang

Sampah Harian Perkotaan Rembang

Tak hanya di perkotaan, masalah sampah juga menjadi penting untuk diselesaikan di banyak daerah. Salah satu daerah yang harus concern terkait pengelolaan sampah adalah Kabupaten Rembang. Perlu diketahui bahwa saat ini sebagian sampah di perkotaan Rembang dipusatkan pada TPA Landoh, Sulang. Data terakhir yang diperoleh pada tahun 2020, TPA Landoh menerima sampah harian sebanyak 135.8 m³. Jumlah ini didominasi oleh sampah dari Kecamatan Rembang.

Menurut data ini pula diketahui bahwa pusat-pusat perekonomian di Rembang seperti pasar dan pelabuhan adalah kawasan penyumbang sampah terbesar. Dari tahun ke tahun jumlah sampah harian yang ditampung oleh TPA Landoh terus mengalami peningkatan. Ironisnya, peningkatan jumlah sampah tidak diikuti dengan perluasan lahan pengelolaan sampah.

Dengan luas 2,1 hektare, nyatanya TPA landoh hanya mampu mengangkut 135,8 m³ dari 238,09 m³ sampah perhari. Pelayanan pengelolaan sampah inipun baru menjangkau 7 dari 14 kecamatan seluruh Rembang.

Sistem Pengelolaan Sampah di Rembang

Dari banyaknya sistem pengelolaan sampah, Kabupaten Rembang masih menggunakan sistem Controll Landfill. Sistem ini sebenarnya sudah banyak ditinggalkan oleh kota-kota besar di Indonesia. Hal ini dikarenakan banyak kelemahan dan kerugian dari sistem ini terutama terkait kebutuhan luas lahan yang terus meningkat dan juga tingginya pencemaran lingkungan berupa bau dan air sampah yang meresap ke dalam tanah. Sebagai hasilnya, masyarakat sekitar mungkin mengalami gangguan kesehatan karena sumber air yang tercemar.

Yang lebih mengkhawatirkan dari pengelolaan yang masih belum merata adalah kenyataan bahwa sebagian besar sampah di Rembang justru dibuang ke saluran air dan sungai. Hal ini menunjukkan bahwa minimnya kesadaran untuk mengelola sampah rumah tangga secara mandiri.

Sebenarnya sangat mudah untuk mengetahui bahwa sistem pengelolaan sampah di Rembang kurang optimal. Cukup datang ke pasar tradisional maka timbunan sampah dan bau menyengat langsung tercium dari kontainer sampah di sudut pasar.

Oleh karena itu, mau tidak mau sistem pengelolaan sampah harus diperbaiki demi terwujudnya lingkungan yang bersih, nyaman dan sehat dagi seluruh masyarakat Rembang.

Pengelolaan Sampah yang Ideal

Idealnya sampah dikelola dengan menggabungkan dua metode, seperti yang diungkapkan oleh Dr. Arnold Soetrisnanto dalam konsep ilmiahnya.

Pertama, yaitu teknologi “fermentasi kontinyu” seperti yang diterapkan oleh banyak negara di Eropa. Teknologi ini mengolah sampah organik dengan lebih ramah lingkungan karena tidak ada pembakaran langsung, melainkan gas metan yang mampu dikonversi menjadi listrik. Selain listrik, teknologi ini juga akan menghasilkan pupuk kompos berkualitas tinggi.

Kedua, yaitu teknologi gasifikasi atau pirolisis untuk mengolah sampah anorganik. Teknologi ini adalah pasangan yang tepat dari teknologi “fermentasi kontinyu” yang mampu memenuhi harapan sebagai teknologi Green Zero Waste.

Teknologi ini sangat bagus namun memiliki satu celah besar yaitu biaya operasional yang tinggi. Untuk Kabupaten Rembang, teknologi ini mungkin terlihat mustahil untuk dijalankan. Tapi tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti Kabupaten Rembang akan menggunakan teknologi ini dan menjadi  Green Zero Waste City.

Alternatif Solusi Pengelolaan Sampah

Jika dirasa teknologi di atas bukan pilihan tepat, saya masih ada beberapa alternatif lagi yang bisa dilakukan saat ini.

Pertama, membuat Bank Sampah yang dikelola secara swadaya di wilayah kompleks atau desa. Harapannya setiap desa mampu untuk mengelola secara mandiri sampah rumah tangganya dan secara tidak langsung persentase pembuangan sampah di TPA akan berkurang juga.

Kedua, membangkitkan kampanye pemisahan limbah, yaitu dengan penyediaan empat kantong pembuangan sampah untuk jenis limbah organik, kertas dan plastik. Selain itu, dalam kampanye ini juga mengajarkan gaya hidup baru tentang peduli lingkungan kepada masyarakat terutama bagi anak-anak. Disadari atau tidak, mengubah gaya hidup dan kebiasaan masyarakat adalah salah satu faktor penting dalam penyelesaian masalah ini.

Ketiga, kebijakan strategis dari Pemerintah. Kebijakan strategis dari pemerintah adalah hal utama dalam penyelesaian masalah ini. Misalnya saja uang kebersihan yang selama ini diterapkan kepada pedagang pasar dan pelabuhan dikaji ulang agar mampu untuk meningkatkan sistem pengelolaan sampah. Saya pikir tidak ada yang protes ketika terjadi kenaikan tarif kebersihan yang dibarengi pula dengan perbaikan kualitas pelayanan pengelolaan sampah.

Nah, itulah beberapa alternatif solusi yang bisa saya sebutkan. Persoalan nanti dijalankan atau tidak kita kembalikan ke pihak yang berwenang.  Bagaimana?