RembangRembang Hari Ini

Pemkab Rembang Gencarkan Sosialisasi DASHAT

Pemkab Rembang melalui Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (Dinsos PPKB) saat ini gencar mensosialisasikan program Dapur Sehat Atasi Stunting yang disingkat DASHAT.

DASHAT sendiri merupakan kegiatan pemberdayaan masyarakat dalam upaya pemenuhan gizi seimbang bagi keluarga berisiko stunting yang memiliki calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, baduta/balita stunting terutama dari keluarga kurang mampu. Dengan melalui pemanfaatan sumberdaya lokal (termasuk bahan pangan lokal) yang dapat dipadukan dengan sumberdaya/kontribusi dari mitra lainnya.

Sedangkan Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi di bawah 5 tahun) akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan pada masa awal setelah bayi lahir akan tetapi, kondisi stunting baru nampak setelah bayi berusia 2 tahun

Kegiatan DASHAT sendiri mencakup edukasi perbaikan gizi dan konsumsi pangan ibu hamil, ibu menyusui, serta balita. Dalam hal ini, masyarakat akan diberi sosialisasi terkait pangan lokal yang terjangkau, bercita rasa, dan bergizi baik dan dipadukan dengan berbagai kegiatan kemitraan. Melalui model pengelolaan sosial, komersial dan kombinasi.

Program ini menjadi salah satu upaya guna mengatasi kasus stunting, yang mana disebabkan asupan nutrisi yang tidak optimal.

Kabid Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera Dinsos PPKB, Endang Hersus Dadikawati mengatakan DASHAT merupakan program pemberdayaan masyarakat dalam upaya pemenuhan gizi seimbang bagi keluarga beresiko stunting.

Mereka yang beresiko stunting ini seperti calon pengantin , ibu hamil, ibu paska melahirkan, ibu menyusui serta keluarga batita dan balita. Dalam hal ini, masyarakat akan diberi sosialisasi terkait pangan lokal yang terjangkau, bercita rasa, dan bergizi baik.

Dilangsir dari laman rembangkab “Harapannya dengan DASHAT ini dapat menjadi bagian dari usaha pemerintah untuk mengatasi kasus stunting dengan memanfaatkan sumberdaya lokal yang ada di setiap daerah.”

Hersus menambahkan sumberdaya lokal yang diolah sedemikian rupa diharapkan menarik masyarakat untuk mengkonsumsinya. Hal ini tentunya menyasar ibu- ibu sebagai ujung tombak penyaji menu makanan dalam rumah tangga.

Ia menyebut di kecamatan Gunem ada kebun DASHAT. Di kebun tersebut ditanami berbagai tanaman sayuran dan buah buahan.

“Nantinya tanaman itu diolah dibuat bubur. Kemudian dibagikan ke warga di hari- hari tertentu, ada juga di satu daerah yang memanfaatkan tanaman kelor, yang bisa diolah menjadi gel makanan yang dicampur ikan,” imbuhnya.

Anggapan bahwa makanan sehat pasti mahal adalah salah. Banyak potensi daerah yang justru sebenarnya memiliki kandungan gizi atau nutrisi tinggi.

Ia mencontohkan makan sehat tak selalu mahal, misalnya, tak melulu makanan sehat itu daging sapi, ikan bahkan kelor juga sehat dan cenderung lebih murah.

“Daging itu mahal, ikan, kelor itu murah, tapi ternyata untuk mencegah stunting sudah sangat cukup,” pungkasnya. (Mif/Rud/Kominfo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button