OpiniSejarahTerkiniUmum

Pahami Risiko Bisnis dan Investasi NFT Sebelum Ikut Memulai

Pemberitaan media sosial dan media massa elektronik belakangan ini diisi oleh fenomena seseorang bernama Ghozali alias Ghozali Everyday yang menghasilkan jutaan rupiah dengan menjual foto selfie-nya sebagai NFT (Non Fungible Token). Dikutip dari tempo.co, keuntungan yang diraup Ghozali dari menjual NFT mencapai 1,5 miliar.

Fenomena ini lantas membuat banyak orang menjadi tergiur untuk menekuni bisnis NFT ini secara lebih serius karena membayangkan kemudahan dan besarnya keuntungan bisnis NFT . Bahkan banyak juga yang secara khusus mendedikasikan pekerjaannya di bidang cryptocurrency dan NFT.  Dapat dikatakan bahwa saat ini pekerjaan yang paling banyak menjanjikan keuntungan adalah bisnis dan investasi NFT dengan basis cryptocurrency.

Risiko Bisnis NFT

Bisnis cryptocurrency dan NFT ini sebenarnya saling menopang keberadaannya. Ketika NFT kian populer, maka cryptocurrency yang digunakan sebagai metode pembayaran juga terangkat kepopulerannya. Tren bisnis ini diawali oleh sosok terkenal dunia  yang ikut terjun dalam bisnis yang  belum lazim ini. Sedikit tambahan narasi bahwa cryptocurrency dan NFT adalah bentuk investasi 4.0 sudah cukup untuk menghipnotis banyak orang untuk terjun tanpa melihat faktor risikonya. Padahal semua investasi itu tentu mengandung faktor risiko apalagi yang menjanjikan keuntungan berlimpah seperti halnya NFT dan cryptocurrency ini.

Sayangnya, hingga saat ini segala bentuk transaksi baik cryptocurrency dan NFT belum dilindungi dan diatur dalam peraturan yang diterbitkan oleh pemerintah Indonesia. Kalaupun ada peraturan yang mengatur itupun tidak secara khusus tentang dua subjek ini sehingga aturan yang ada tidak secara detail mampu menjelaskan tatacara, mekanisme dan sanksi terhadap pelanggarannya. Jadi saat ini bisnis crypto dan NFT benar-benar mengikuti mekanisme pasar global dan ketika ada kejahatan atau tindak kriminal di dalamnya akan sulit untuk dideteksi. Hal ini  dikarenakan dalam transaksinya tidak ada pihak ketiga yang menjadi perantara layaknya transaksi melalui perbankan secara umum.

Sebagai contoh, anda memiliki NFT dan kemudian diretas sehingga anda mengalami kerugian. Nah, ketika hal ini terjadi maka tidak ada badan penjamin yang mengganti kerugian anda karena status NFT yang belum diakui dan diatur oleh pemerintah. Beda halnya dengan sistem transaksi perbankan yang diawasi oleh lembaga resmi dan penjamin resmi.

Secara sederhana NFT dan cryptocurrency menjadi bernilai saat ini adalah karena diyakini oleh publik bahwa kedua hal ini memang berharga. Semua pemahaman ini dibentuk dan diarahkan oleh para pemain besarnya untuk membuat fondasi dasar dalam bisnis ini. Coba bayangkan jika tidak ada yang menganggap NFT ini berharga maka bisnis ini tidak akan berjalan. lebih lanjut lagi ketika nanti NFT ini tidak populer lagi maka mungkin nilainya tidak ada.

Dari sudut pandang ini dapat dilihat kemiripan antara fenomena NFT dengan fenomena ikan Louhan, tanaman Gelombang Cinta, batu akik dan fenomena sejenis . Beberapa fenomena ini adalah contoh dari bisnis yang pada awalnya sangat populer dalam waktu singkat dengan nilai transaksi fantastis, bahkan ada beberapa orang yang sukses dalam bisnis ini namun tak berselang lama menjadi tidak berharga ketika tren itu menghilang. Berdasarkan fenomena ini dapat dipetik pelajaran bahwa bisnis yang volatil alias tidak memiliki nilai acuan yang jelas, mengandung faktor risiko yang sangat besar ketika suatu saat tren itu sudah lewat.

Oke.. tulisan ini adalah hasil analisis dan opini pribadi, jika ada perbedaan pandangan dalam hal resiko dari bisnis NFT dan cryptocurrency  penulis sangat menghargai. Namun tidak ada salahnya jika tulisan ini dijadikan sebagai rambu-rambu oleh pembaca sebelum memutuskan untuk memulai bisnis ini. Terimakasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button