PilihanRembangSejarah

Majapahit dan Sumber Sejarahnya yang Valid

Siapa yang tidak tahu dengan Kerajaan Majapahit? Sebuah kerajaan yang terkenal karena memiliki seorang patih andalan bernama Gadjah Mada. Seorang patih yang terkenal gagah berani dan memiliki dedikasi yang tinggi terhadap kerajaannya. Keberhasilannya bersama Raja Hayam Wuruk dalam memimpin kerajaan, membuat Kerajaan Majapahit berkuasa seantero Nusantara dan beberapa wilayah di Asia Tenggara. Hal inilajh yang membuat Muhammad Yamin memberikan predikat kepada Kerajaan Majapahit sebagai Kerajaan Nasional Kedua di Indonesia.

Terlepas dari kepopuleran Kerajaan Majapahit, nyatanya banyak pula sumber sejarah yang saling bertolak belakang dalam menceritakan Kerajaan ini. Beberapa ketidaksesuaian ini sengaja dibentuk oleh pihak tertentu yang ingin mengambil keuntungan dari fakta sejarah yang tidak sesuai ini. Oleh karena itu, perlu kita ketahui beberapa sumber acuan yang valid untuk bisa menggali fakta sejarah yang sebenarnya dari Kerajaan Majapahit.

Secara umum terdapat dua kategori yang membagi sumber sejarah yaitu sumber Primer dan sumber Sekunder. Sumber sejarah yang ditulis langsung oleh pelaku sejarah atau saksi mata dari suatu peristiwa sejarah adalah sumber primer yang sangat kuat. Sedangkan, sumber sejarah yang ditulis oleh seseorang yang bukan pelaku sejarah, bukan saksi mata dan tidak hidup sezaman termasuk dalam sumber sekunder. Sumber sekunder tidak bisa dijadikan sebagai sumber utama melainkan sebagai pelangkap dan dapat diabaikan jika sumber primer cukup lengkap dalam menceritakan runutan sejarah.

Nah, sumber primer yang dapat dijadikan rujukan antara lain adalah Prasarti Sukamerta (1296 M) dan Kitab Negarakertagama.

Prasasti Sukamerta

Prasasti Sukamerta dibuat pada masa pemerintahan Raja Sanggramawijaya. Raja pertama Majapahit menjadikan prasasti ini sebagai dokumen penetapan desa Sukamerta menjadi sima, atau daerah bebas pajak.

Kitab Negarakertagama

Kitab ini ditulis oleh Mpu Prapanca yang merupakan saksi mata atas masa keemasan Kerajaan Majapahit. Validitas Kitab ini tidak diragukan karena Mpu Prapanca sendiri pernah menjabat sebagai pimpinan agamawan Buddha di lingkungan istana. Kitab ini selesai ditulis dalam masa kekuasaan Raja Hayam Wuruk (1334-1389 M).

Negarakertagama berisi tentang laporan pandangan mata mengenai keluarga raja dan silsilahnya, kehidupan di istana dan di luar istana, pembagian wilayah kerajaan, kota-kota yang dikunjungi Raja Hayam Wuruk, kehidupan beragama, hingga berbagai bangunan suci pada masa itu.

Selain sumber primer di atas, sejarah Majapahit juga ditemukan dalam sumber-sumber sekunder diantaranya adalah Serat Pararaton.

Serat Pararaton

Serat ini berbentur lontar yang ditulis sekitar tahun 1481 M, pada masa kekuasaan Raja Girindrawardhana (1471-1498 M) setelah 116 tahun masa keemasan Majapahit. Menurut salah satu sumber, serat pararaton kemungkinan ditulis dalam lingkungan yang masih bercorak Hindu-Buddha di Jawa Timur sehingga masih erat secara kaitan gografis, budaya dan bahasa yang dipakai zaman Majapahit.

Pararaton berisi silsilah raja-raja Singosari hingga raja akhir Majapahit dilengkapi dengan tahun dan peristiwa yang mengiringinya. Pararaton berfungsi sebagai penambal kekosongan dari sumber primer seperti prasasti dan Negarakertagama.

Lantas bagaimana dengan posisi Babad Tanah Jawi yang juga menceritakan sejarah Majapahit?

Babad Tanah Jawi

Babad Tanah Jawi ditulis sekitar 250 tahun setelah Majapahit runtuh dan banyak masyarakat Jawa telah berganti keyakinan. Kitab ini ditulis dalam lingkungan non Hindu-Buddha dengan budaya dan bahasa yang berbeda dengan orang Majapahit.

Menurut H.J. De Graaf, Babad Tanah Jawi adalah sumber sejarah primer dan valid untuk peristiwa sejarah pada zaman Pajang hingga Kartasura. Namun untuk masa sebelum itu, naskah ini tidak bisa digunakan sebagai sumber sejarah karena bercampur dengan mitos dan legenda. Jadi cukup jelas bahwa Babad Tanah Jawi adalah sumber sekunder yang sangat lemah jika menyangkut tentang sejarah Majapahit.

Oleh karena itu, peristiwa sejarah dalam naskah ini yang menceritakan kisah Raja Brawijaya sebagai raja terakhir Majapahit dan Raden Patah ditolak. Meskipun kisah-kisah ini diragukan sejarahnya, namun sebagai sebuah karya harus tetap dihargai dan ditempatkan pada posisi yang tepat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button