Sejarah

Listrik PLN Oversupply Padahal Produksi Listrik Mandiri Masih Defisit

Rembang, Kalasela.id – Kabar penghapusan listrik 450 VA untuk masyarakat miskin kembali mengangkat persoalan kelebihan pasokan (oversupply) listrik PLN. Ketua Banggar DPR RI Said Abdullah menyatakan bahwa Pemerintah berencana untuk mengalihkan daya 450 VA ke 900 VA dan 900 VA ke 1200 VA.

Menurut beliau langkah menaikkan daya listrik penerima Subsidi agar listrik PLN yang saat ini mengalami oversupply dapat terserap. Beliau menambahkan bahwa penambahan daya listrik penerima subsidi tidak akan menambah biaya listrik masyarakat penerima subsidi yang tergolong miskin.

Oversupply Sudah Berlangsung Selama 9 Tahun

Ketua Banggar dalam rapat penja tersebut juga menyampaikan bahwa tahun ini kondisi surplus Listrik PLN mencapai 6 Gigawatt (GW) dan akan bertambah menjadi 7,3 GW di 2023. Jumlah inipun masih akan terus bertambah mencapai 41 GW ketika listrik EBT (Energi Baru Terbarukan) masuk pada 2030.

Merujuk pada laporan Statistik PLN 2021, oversupply listrik PLN sudah terlihat setidaknya sejak 9 tahun lalu atau pada tahun 2013. Selama periode 2013-2021 total pasokan listrik PLN selalu lebih banyak sekitar 28 ribu-30 ribu GWh daripada total listrik yang terjual. Terakhir pada tahun 2021, pasokan listrik PLN mencapai 289.470 GWh sedangkan listrik yang terjual ke pelanggan sebanyak 257.634 GWh.

Perbandingan Suplai Listrik PLN dan Listrik yang Terjual ke Pelanggan (2013-2021) oleh Katadata
Perbandingan Suplai Listrik PLN dan Listrik yang Terjual ke Pelanggan (2013-2021) oleh Katadata

Produksi Listrik PLN Secara Mandiri Selalu Defisit

Meskipun PLN mengalami oversupply, listrik yang diproduksi PLN secara mandiri sebetulnya selalu defisit atau lebih rendah dari jumlah listrik yang terjual ke pelanggan. Untuk menutupi defisit tersebut, PLN melakukan pembelian listrik ke perusahaan produksi listrik swasta.

Pada tahun 2021, PLN memproduksi listrik sendiri sebesar 182.973 GWh dan membeli listrik sebesar 106.497 GWh. Dengan demikian, pasokan listrik pada tahun 2021 mencapai 289.470 Gwh. Selama periode 2013-2021, PLN selalu membeli listrik dari pihak lain dengan jumlah yang lebih besar dari kebutuhan pelanggan. Sebagai akibatnya, PLN merogoh kantong lebih dalam untuk membayar selisih listrik yang seharusnya tidak dibeli tersebut.

Beban biaya yang harus PLN tanggung sebagai akibat dari kelebihan pasokan listrik sebanyak Rp 3 Triliun/ GWh. Sehingga pada tahun 2021, PLN menanggung beban biaya sebesar Rp 95,4 Triliun dari 31,8 GWh listrik yang oversupply. Jika saja angka kerugian ini digunakan untuk pengembangan EBT sebagai masa depan energi kita, berapa banyak potensi manfaat yang akan kita peroleh?

Pasokan Listrik PLN yang Diproduksi Sendiri dan Listrik yang Terjual ke Pelanggan (2013-2021) olehe Katadata
Pasokan Listrik PLN yang Diproduksi Sendiri dan Listrik yang Terjual ke Pelanggan (2013-2021) oleh Katadata

Jadi apa yang harus dilakukan oleh PLN dan Pemerintah untuk mengatasi oversupply ini? Biarlah para Ahli dan pakar yang berdiskusi untuk menemukan solusinya. Semoga saja nanti menghasilkan solusi yang berpihak pada kepentingan masyarakat dan juga negara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button