OpiniRembangSejarah

Lelo Ledung: Tembang Pengantar Tidur Sarat Makna

Pernah suatu saat ketika sedang memesan makanan disebuah tempat makan, saya melihat seorang anak yang sedang digendong oleh ibunya. Tampak si ibu berusaha untuk menidurkan anaknya yang sedang menangis. Tak berselang lama, terdengar suara lemah lembut dari sang ibu yang menyayikan lagu “nina bobo”. Dengan penuh perhatian, si ibu ini bernyanyi sambil mengusap kepala anaknya. Melihat momen ini, tak terasa timbul kerinduan terhadap sosok emak yang dipanggil lebih dulu oleh Yang Kuasa. Sebagian orang mungkin menganggap momen ini adalah momen biasa, namun bagi saya ini adalah momen yang membuat baper.

Saya membayangkan diri ini berada pada posisi anak tadi, lalu emak menggendong sambil bersenandung tembang “Lelo Ledung” dengan suara lemah lembut seperti ibu tadi. Momen ini seperti kunci yang membuka pintu menuju kenangan masa kecil. Beberapa saat setelah nyanyian ibu tadi berhenti, saya langsung tersadar bahwa mata ini telah basah. Kemudian saya ambil tisu diatas meja dan tak lupa mendoakan emak semoga senantiasa dikasihi oleh Yang Kuasa.

Beberapa bulan setelahnya, rasa rindu momen masa kecil itu timbul kembali. Lalu saya putar tembang “Lelo Ledung” lewat Youtube yang kebetulan saat itu dinyanyikan oleh SIHO.

Sambil menutup mata saya dengarkan sembari meresapi makna yang coba disampaikan lewat lirik tembang ini. Beginilah kira-kira lirik dan artinya dalam bahasa Indonesia.

Tak lelo lelo lelo ledung | Kutimang timang timang sayang
Cup menengo anakku cah bagus | Diamlah anakku nak tampan
Anakku sing bagus rupane | Anakku yang tampan rupanya
Neg nangis ndak ilang baguse | Kalau menangis nanti hilang tampannya
Tak gadhang biso urip mulyo | Kuharap bisa hidup mulia
Dadiyo satrio utomo | Jadilah kesatria utama
Ngluhurke asmane wong tuwo | Meninggikan nama orang tua
Dadiyo pendhekaring bongso | Jadilah pahlawan bangsa
Wes cep menengo anakku | Sudahlah berhenti menangis anakku
Kae bulane ndadari | Lihatlah bulannya sedang purnama
Koyo buto nggegilani | Seperti raksasa menakutkan
Lagi nggoleki cah nangis | Sedang mencari anak yang menangis
Tak lelo lelo lelo ledung | Kutimang timang timang sayang
Cep menengo ojo pijer nangis| Diamlah jangan menangis terus
Tak emban slendang jarik Kawung | Kugendong dengan selendang jarik kawung
Yen nangis romo ibu bingung | Kalau menangis ayah ibu bingung

Setelah meresapi isi tembang ini, saya menyadari bahwa dalam tembang ini ada doa dan harapan orang tua terhadap anaknya. Harapan orang tua agar anaknya kelak menjadi pribadi yang memegang nilai kebaikan, menjadi orang yang mulia , mengharumkan nama keluarga, serta berguna bagi nusa dan bangsa.

Betapa beruntungnya anak-anak Jawa zaman dulu yang dalam tidurnya selalu didoakan oleh orang tuanya. Doa baik yang setiap saat disenandungkan bersama kasih sayang dan kehangatan dari orang tua. Ketulusan pun tergambar dari bagaimana orang tua kala itu memberikan pengajaran sewaktu anaknya dalam kondisi paling nyaman (tidur). Anda juga bisa membayangkan dalam kondisi nyaman seperti ini segala petuah orang tua tentu akan mudah merasuk dalam benak si kecil.

Terakhir, saya ucapkan terimakasih saya sampaikan kepada emak  dan ibu-ibu di luar sana yang telah memberikan pendidikan dan pengajaran kepada kami. Jadi apakah berminat melestarikan warisan budaya ini?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button