Ilustrasi Azizi JKT48
Ilustrasi Azizi JKT48

Kita Semua Pernah Bodoh di Hadapan Cinta

Awal bulan ini dua orang pemuda tertangkap mencuri sepada motor demi membiayai sewa kost pacarnya. Bagi pemilik sepeda motor mungkin itu tindakan yang menimbulkan trauma, tapi bagi para pelaku ini merupakan tantangan untuk bisa tetap mendapatkan cinta. Karena tidak semua orang beruntung mendapatkan cinta tanpa perlu menggadaikan segalanya. Saya tidak membenarkan tindakan pelaku, tetapi mari kita bahas sudut pandang yang lain: bagaimana cinta bekerja mengubah seseorang.

Kita semua pernah bodoh di hadapan cinta

Ungkapan “cinta itu buta” sangat populer,  ini sebagai bentuk gambaran bagaimana cinta mengubah persepsi orang terhadap sesuatu. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan Henk van Steenbergen dkk di tahun 2013 silam terungkap bahwa cinta berhasil mempengaruhi kontrol kognitif seseorang, antara lain kemampuan menginterpretasi, menilai, atau menghubungkan menjadi bias. Ini biasanya ditemukan pada pasangan di umur hubungan di bawah 6 bulan. Di mana pasangan memenuhi isi kepala sehingga pada saat melakukan task atau kegiatan pikirannya bercabang. Pada tahap cinta menguasai kognitif seseorang, di situ pula kemampuan multi-tasking seseorang menurun. Salah satu bukti empiris bahwa kita semua pasti pernah bodoh di hadapan cinta.

Untuk melihat bagaimana penelitian ini terjadi di sekeliling kita, coba amati. Mereka yang baru saja menjatuhkan hatinya pasti terkadang pernah melakukan hal-hal bodoh. Setidaknya sekali. Seperti, mengirim pesan “Aku kemarin tidur nyenyak” atau “aku tadi makan gorengan pakai 5 cabai lho”. Informasi ini terdengar tidak penting bahkan tidak berguna di mata orang biasa. Tapi untuk mereka yang sedang menjalin hubungan asmara, terutama pada tahap awal, percakapan itu bagaikan jalan tol menuju ikatan yang semakin erat, untuk cinta yang semakin lekat.

Saya kenal seseorang yang melakukan kebodohan lebih dari dua pemuda yang mencuri sepeda motor untuk kekasih tercinta. Tentu saja namanya saya rahasiakan. Dia jatuh cinta dengan orang yang 3 atau 4 tahun tak lagi pernah ia temui. Satu-satunya visual yang ia dapatkan hanya dari video atau foto yang terima di percakapan maya. Tapi dia mengaku nyaman, hingga dia menyerahkan waktu, perhatian dan apa pun yang ia punya. Tapi sayangnya ia tak begitu mengenal lawan bicaranya selama ini. Setelah bersimpuh jatuh ia terpaksa harus sadar bahwa realitanya orang yang ia “sembah” selama ini tidak menganggapnya apa-apa. Kebodohan di hadapan cinta yang salah. Apakah ini lebih bodoh? tentu.

Mengapa kita bodoh di hadapan cinta?

Perasaan positif yang berlebihan. Alasan utama mengapa orang bisa bodoh di hadapan cinta adalah overdosis kebahagiaan. Perasaan bahagia yang berlebihan ini di beberapa sumber disamakan seperti perasaan candu terhadap narkotika dan obat-obatan terlarang. Sehingga kontrol terhadap baik-buruk, negatif-positif dan semacamnya menjadi kabur. Perasaan positif yang berlebihan ini juga kadang membendung nasihat dan akal sehat. Pernah baca cerita bagaimana seorang anak muda menjual genteng rumah ibunya demi kado buat sang kekasih? kurang lebih seperti itu.

Jika kita amati lebih dekat, kebodohan ekstrem yang dilakukan demi kekasih dilakukan oleh mereka yang: bingung secara sosial dan berada di dalam tekanan finansial. Mereka yang kesulitan membangun hubungan sosial biasanya kesulitan menjalin hubungan pribadi dengan lawan jenis. Ini memaksa mereka habis-habisan ketika berhasil mendapat satu yang pas. Sayangnya, kebanyakan dari mereka kurang beruntung dengan finansial. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa menjaga cinta juga butuh biaya. Pernah dengar kasus anak SMA tidak jajan demi traktir sang pacar? atau pemuda pekerja kas bon dulu untuk membawa pujaan hatinya jajan-jajan lucu? nah begitulah cinta bekerja.

Lebih mudah jatuh cinta, lebih mudah kalah

Sosial media dan semakin mudahnya sarana komunikasi pribadi membuat peluang jatuh cinta lebih mudah. Seorang fotografer acara yang mengarahkan lensanya ke senyum manis seseorang, dilanjut saling sapa di Instagram bisa jadi contoh manifestasi sempurna jatuh cinta pada pandangan pertama di era kekinian. Sekarang, jika hati benar-benar punya pintu Instagram dan WhatsApp mungkin sebuah jendela dan pintu belakang. Bukankah mereka yang pandai mencuri biasa lewat keduanya?. Jika dulu masuk ke ranah pribadi harus melalui surat atau kenalan orang dalam, keluarga maksudnya, kini kita bisa kenal seseorang dengan cepat melalui banyak cara. Beruntung jika orangnya terbuka, makin mudahlah cinta itu jatuh.

Dengan analogi yang sama, semakin mudah banyak orang yang jatuh, persaingan juga semakin rumit dan sengit. Ada banyak yang harus dipertaruhkan, habis-habisan saja tidaklah cukup, butuh strategi dan tentunya yang paling penting, restu ilahi.

Karena kita semua pernah jatuh cinta, tapi tak semua beruntung dengannya.

Bagaimana kebodohan kalian di hadapan cinta? mari sambat bersama.

 

 

Catatan: Tulisan ini ditulis oleh Chief Creative Kalasela Prayogo Ryza dan merupakan pendapat pribadi, tidak mewakili Kalasela sebagai media. Penulis bisa digugat dan didukung melalui Instagram : @prayogoryza dan Twitter: @prayogoryza