Sumber Twitter Dr Faheem Younus

Kenapa Masih Menyemprot Disinfektan?

Mengkritisi kebijakan semprat-semprot disinfektan di jalanan

Sejak tanggal 3 Juli 2021 kemarin Rembang telah melalukan aturan PPKM Darurat Jawa –Bali. Sesuai Instruksi Bupati Rembang, semua toko di Rembang kini diwajibkan untuk tutup jam 8 malam kecuali sektor yang dianggap kritikal semisal kesehatan, energi, proyek strategis nasional dan lain-lain. Pada Intinya, Instruksi tersebut merupakan tindak lanjut dari instruksi Pemerintah Pusat.

Aturan ini sebenarnya hampir mirip dengan aturan PPKM Mikro yang sebelumnya diberlakukan di Rembang, hanya saja ada beberapa poin pengetatan dan penambahan instruksi dari Bupati. Dalam pelaksanaan aturan PPKM Darurat ini, kegiatan penyemprotan cairan disinfektan di jalan-jalan dan sejumlah kawasan di Rembang kembali diberlakukan meskipun tidak secara jelas tertulis dalam instruksi Bupati.

Kegiatan ini dilakukan rutin sehari dua kali (pagi dan malam) di jalan-jalan dan 5 titik yang diduga menjadi pusat penyebaran Covid-19 di Rembang termasuk Pusat isolasi mandiri di Hotel Puri dan Hotel Pantura. Tim yang tergabung dalam kegiatan ini berasal dari PMI Rembang, Polres Rembang, Pemadam Kebakaran, dan Kodim 0720 Rembang.

Menurut pihak terkait, Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan untuk menekan penyebaran Virus Corona Di Rembang yang akhir-akhir ini meningkat cukup tinggi. Selain itu, penyemprotan yang dilakukan di malam hari dimaksudkan untuk membubarkan kerumunan warga yang melanggar aturan jam malam selama PPKM Darurat. Terlepas dari tujuan tersebut ada hal yang menjadi pertanyaan yaitu sejauh mana penyemprotan desinfektan ini efektif untuk membasmi virus corona? Lalu Apa efek samping atau resiko yang mungkin timbul dari kegiatan penyemprotan desinfektan terhadap masyarakat yang terpapar?

Penggunaan desinfektan untuk penyemprotan jalan-jalan dan lingkungan terbuka sebenarnya sudah menjadi perdebatan di kalangan medis dan masyarakat awam sejak gelombang pertama Covid-19 melanda. Mungkin masih segar di ingatan saat Covid-19 kali pertama ditemukan Indonesia bulan Maret 2020, banyak muncul disinfeksi (alat penyemport disinfektan) di depan fasilitas umum, gedung perkantoran, atau bahkan rumah pribadi. Selain itu, banyak pula praktek menyemprot cairan disinfektan ke pengemudi motor dan jalan-jalan serta kawasan terbuka.

Tak berselang lama setelah fenomena desinfeksi marak dilakukan di Indonesia, Beberapa peneliti dari beberapa lembaga lalu merespon dengan menyampaikan bahwa pada intinya desinfeksi terhadap tubuh manusia dan benda mati (termasuk jalan dan kawasan terbuka) tidak terbukti efektif untuk membunuh virus SARS-CoV-2 alias virus Corona. Kecuali untuk rumah sakit, ruangan tertutup, atau tempat isolasi mandiri. 

Bahkan dalam keterangan yang lain menyebutkan bahwa praktik penyemprotan cairan disinfektan ke tubuh manusia dapat menyebabkan efek samping yang buruk terhadap kesehatan jika terbuat dari bahan-bahan yang tidak ramah lingkungan diantaranya, 

  1. Dapat menyebabkan kerusakan selaput lendir seperti mata dan mulut
  2. Menghirup gas klorin dan klorin dioksida dari bahan desinfektan dapat mengakibatkan iritasi parah pada saluran pernafasan
  3. Penelanan dan penghirupan kloroksilenol, yang merupakan bahan aktif cairan antiseptik komersial, secara tidak sengaja dapat menyebabkan komplikasi kesehatan serius, bahkan kematian 

Kami memahami bahwa kegiatan penyemprotan disinfektan merupakan ikhtiar pemerintah dan berbagai pihak untuk mengurangi penyebaran. Yang menjadi soal, tidakkah ada evaluasi atau masukan dari tenaga ahli terkait efektivitas kegiatan ini. Mengingat banyaknya sumber yang menyebutkan kegiatan ini kurang efektif harusnya jadi pertimbangan untuk menggantinya dengan kegiatan lainnya.

Seperti mendukung mereka yang isolasi di rumah dengan suplai vitamin, memberikan insentif bagi mereka yang tidak bisa bekerja seperti biasa karena pembatasan yang berlaku, atau memborong dagangan UMKM untuk didistribusikan mereka yang isolasi mandiri (seperti sayur, buah, dan makanan bergizi lainnya).  Ide menarik lainnya, mungkin anggarannya bisa dialihkan untuk mengundang musisi, penghibur, atau lainnya untuk pentas menghibur mereka yang sakit. Bukankah bahagia merupakan sumber imun terbaik?

Di kondisi yang serba susah seperti sekarang ini memang kita harus mengambil peran masing-masing. Masyarakat menaati aturan yang ada dan petugas menjalankan fungsinya. Tapi tidak ada salahnya bukan saling mengingatkan, toh kita sama-sama ingin segera keluar dari kondisi serba susah seperti sekarang ini. 


Referensi:
https://www.nurfmrembang.com/berita/ppkm-darurat-penyemprotan-disinfektan-di-rembang-kembali-digalakkan
https://www.nurfmrembang.com/peristiwa/bubarkan-kerumunan-warga-di-rembang-disemprot-cairan-disinfektan
https://www.nurfmrembang.com/berita/nekad-langgar-pembatasan-jam-di-rembang-siap-siap-kena-semprot-desinfektan
https://kawalcovid19.id/content/1021/apakah-penyemprotan-disinfektan-efektif-membunuh-sars-cov-2
http://jdih.rembangkab.go.id/instruksi-bupati-ppkm-darurat-di-kabupaten-rembang/
https://twitter.com/FaheemYounus/status/1412283463277887495?s=19