OpiniTerkini

Kematian Taruna STIP: Tragedi Berulang dan Budaya Senioritas yang Tak Kunjung Hilang

Kalasela.id– Kematian tragis Putu Satria Ananta Rastika, taruna Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta, akibat penganiayaan senior kembali menggemparkan publik. Peristiwa ini bukan hanya duka bagi keluarga korban, tetapi juga menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan Indonesia, khususnya institusi sekolah kedinasan.

Kasus ini bukan yang pertama kalinya terjadi. Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa taruna sekolah kedinasan di bawah Kementerian Perhubungan tewas akibat penganiayaan oleh senior.

Mengapa Tragedi Ini Terus Berulang?

Menurut pengamat pendidikan, Ubaid Matraji, tragedi ini berulang karena adanya kultur kekerasan senioritas yang mengakar kuat di sekolah kedinasan. Kultur ini seakan tak tersentuh dan bahkan menjadi “kurikulum tersembunyi” bagi para taruna.

Senioritas yang kental dengan arogansi dan budaya perpeloncoan ini tak hanya menyakiti secara fisik, tetapi juga mental para junior. Tekanan dan kekerasan yang para junior alami menyebabkan trauma mendalam dan berakibat fatal seperti yang menimpa Putu.

Langkah Apa yang Perlu Diambil?

Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perhubungan dan Kemendikbudristek, harus mengambil langkah tegas untuk memberantas kultur kekerasan senioritas di sekolah kedinasan. Tak bisa lagi tindakan menjurus ke arah kriminalitas seperti ini tak tersentuh.

Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:

  • Evaluasi menyeluruh sistem pendidikan kedinasan: Evaluasi ini harus menyentuh kurikulum, praktik pengasuhan, tata hidup di asrama, dan budaya yang tertanam di sekolah.
  • Penegakan hukum yang tegas: Tindak tegas pelaku penganiayaan dan bongkar jaringan kekerasan yang ada di sekolah.
  • Pencegahan dan edukasi: Lakukan edukasi berkelanjutan tentang bahaya kekerasan dan pentingnya membangun interaksi yang positif dan saling menghormati antar siswa.
  • Peningkatan pengawasan: Perketat pengawasan di sekolah, baik dengan menambah jumlah pengasuh, memasang CCTV, maupun dengan melibatkan pihak eksternal.
  • Melibatkan pemangku kepentingan: Libatkan alumni, asosiasi profesi, dan orang tua dalam proses pembentukan karakter dan pencegahan kekerasan.

Kematian Taruna STIP, Putu Satria Ananta Rastika, adalah pengingat pahit bahwa kultur kekerasan senioritas masih menjadi momok di sekolah kedinasan. Perlu komitmen kuat dari semua pihak untuk memberantas budaya ini dan menciptakan lingkungan belajar yang aman dan kondusif bagi seluruh siswa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (1) in /home/kalasela/public_html/wp-includes/functions.php on line 5427

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (1) in /home/kalasela/public_html/wp-includes/functions.php on line 5427