Pilihan

Bagaimana Baiknya Mengelola Emosi Negatif

Sebagai manusia memang wajar mempunyai emosi negatif seperti marah, takut, minder, sinis, malu, tidak berdaya, dan buru-buru. Bahkan hal – hal tersebut tak jarang membuat kita stress jika kita tak mampu mengendalikannya. Sehingga kita akan gagal untuk relax, optimis, percaya diri, dan berani.

Apa penyebab seseorang bermasalah secara emosional?

Kemarahan, agresif, dan cemas diwariskan secara genetik. Pola asuh orang tua yang disfungsional seperti keras, abusive, tidak mendukung, cenderung mengabaikan, suka mengkritik, overprotektif, dapat membuat kita tidak mampu mengendalikan emosi dan perilaku kita. Sehingga kita akan menganggap hal itu wajar karena kita sudah terbiasa mengalaminya pada saat kecil dulu. Pada saat dewasa, kita menjadi sulit untuk bergaul dengan orang lain dan mereka pun enggan untuk dekat dengan kita karena kita tidak bisa mengontrol emosi dan perilaku kita.

Jangan abaikan emosi negatif!

Saat kita mengabaikan emosi negatif kita, maka emosi negatif tersebut akan terus tersimpan dalam alam bawah sadar kita, dan akan muncul pada momen momen tertentu yang punya korelasi dengan masa lalu. Ini berbahaya! Pada saat emosi negatif itu muncul, maka yang terjadi seperti bom waktu, seperti meledak-ledak, marah yang berlebihan, detak jantung kita tidak stabil. It’s okay not to be okay. Jangan menyangkal bahwa kita baik-baik saja saat kita sedang tidak baik-baik saja. Menangislah. Marahlah. Akui saja.  Bukan dengan mengatakan I’m okay.

Cari tahu yuk kenapa emosi tertentu muncul! Temukan why moment-nya.

“Kenapa bisa semarah ini sih”, bukan “aku marah karena kamu”. Tapi “kenapa aku bisa marah dan terpicu marahnya karena kamu?”. Karena yang membuat kita marah belum tentu si-kamu. Disini kita sedang mencari cara agar kita bisa berpikir secara rasional.

Bagaimana agar kita bisa mengelola emosi negatif?

Psikolog anak & keluarga, Roslina Verauli mengungkapkan langkah-langkah berikut ini :

  1. Name the feelings

Emosi negatif apa yang sedang anda rasakah? Apakah marah? cemas? gelisah? Minder?

  1. Levelling the feelings

Sebesar apa sih marahnya kalo pakai skala 0 sampai 100% ? Apakah 80%? 90%?

  1. Evaluating the feelings

Apa yang membuat anda marah sampai 90%? Maka temukan why moment-nya dengan berfikir dengan rasional.

Evaluasi diri sendiri, karena mungkin levelnya sebenarnya bukan 90% tetapi bisa jadi hanya 40%. Sesuatu di masa lalulah yang membuat levelnya menjadi 90%. Cari tahu kenapa momen-momen tertentu di masa lalu dapat memicu kemarahan. Cobalah temukan jawabannya dan pahami. Terakhir, kembali ke masa sekarang, dan beri nilai ulang pada kejadian tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button