OpiniTerkini

Kecelakaan Bus Study Tour, Tanggung Jawab Siapa?

Mempertanyakan Akuntabilitas dan Masa Depan Study Tour

Kalasela.id– Kecelakaan maut bus yang mengangkut rombongan study tour SMK Lingga Kencana Depok baru-baru ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban dan insan pendidikan. 11 korban jiwa melayang, menjadi pengingat pahit akan keselamatan yang terabaikan. Tragedi ini pun memunculkan pertanyaan krusial: Siapa yang bertanggung jawab atas tragedi ini?

Kelalalian yang Memicu Malapetaka

Penyelidikan awal oleh pihak kepolisian dan KNKT mengungkap fakta pahit. Bus Trans Putera Fajar dengan nomor polisi AD-7524-OG yang mengalami kecelakaan ini, memiliki KIR yang telah kedaluarsa sejak 6 Desember 2023. Hal ini tentu menjadi sorotan utama, menunjukkan kelalaian dalam aspek kelaikan kendaraan.

Berdasarkan investigasi, Kemenhub menduga bahwa kecelakaan tragis ini akibat rem blong. Kronologi kejadian mengungkapkan bus oleng ke kanan, menabrak sepeda motor dan terguling. Peristiwa nahas ini menjadi pengingat keras tentang pentingnya pemeriksaan berkala kondisi kendaraan dan kepatuhan terhadap regulasi lalu lintas.

Di Tengah Duka, Muncul Pertanyaan dan Polemik

Di tengah duka mendalam, berbagai respon bermunculan. Penjabat Gubernur Jawa Barat, Bey Machmudin, mengeluarkan surat edaran yang mengatur pelaksanaan study tour, termasuk memperketat izin dan melarang kegiatan ke luar kota. Penjabat Wali Kota Bogor, Hery Antasari, juga melakukan hal serupa.

Namun, di sisi lain, muncul pula pertanyaan mendasar tentang keberlangsungan study tour itu sendiri. Banyak pihak mempertanyakan manfaat dan urgensinya, bahkan menuding adanya oknum guru yang memanfaatkan kegiatan ini untuk keuntungan pribadi.

Kecelakaan ini membuka kotak pandora tentang berbagai persoalan, mulai dari kelayakan armada bus, pengawasan lalu lintas, regulasi study tour, hingga oknum yang tidak bertanggung jawab.

Tamparan Keras dan Evaluasi Mendalam

Tragedi ini bagaikan tamparan keras bagi semua pihak terkait. Pemerintah harus lebih tegas dalam menegakkan regulasi dan pengawasan, baik terhadap kondisi kendaraan maupun penyelenggaraan study tour. Sekolah pun perlu mengevaluasi kembali program study tour, dengan mengedepankan keselamatan dan manfaat nyata bagi peserta didik.

Bukan Larangan, tapi Evaluasi dan Perbaikan

Lalu, apakah study tour harus dilarang? Jawabannya tidak sesederhana itu. Study tour, jika dilaksanakan dengan baik dan bertanggung jawab, dapat menjadi sarana pembelajaran yang bermanfaat bagi siswa. Kuncinya terletak pada perencanaan matang, pemilihan penyelenggara terpercaya, dan pengawasan ketat.

Tragedi ini harus menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak. Kita harus bahu membahu memastikan keselamatan dan keamanan anak-anak dalam setiap kegiatan pendidikan. Jangan sampai kejadian serupa terulang kembali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (1) in /home/kalasela/public_html/wp-includes/functions.php on line 5427

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (1) in /home/kalasela/public_html/wp-includes/functions.php on line 5427