LifestyleOpiniRembang

Kasus Diabetes Pada Anak di Indonesia Melonjak Tinggi

Kasus diabetes pada anak meningkat 70 kali lipat

Rembang, Kalasela.id– Awal bulan Februari 2023 Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melaporkan bahwa pada tahun 2023, kasus diabetes pada anak di Indonesia melonjak tinggi. Lonjakan kasus ini tercatat mencapai 70 kali lipat dibandingkan dengan jumlah kasus di tahun 2010.

Sebanyak 1.645 anak berusia di bawah usia 18 tahun dari 13 kota tercatat menderita diabetes. Dari jumlah tersebut, penderita diabetes paling banyak berasal dari pulau Jawa terutama kota Jakarta dan Surabaya.
Laporan ini juga mengungkapkan bahwa penderita diabetes pada anak didominasi oleh anak perempuan dengan persentase 59 persen.

“Anak perempuan itu ada 59 persen lebih yang tercatat mengalami diabetes,” kata Muhammad Fauzi, Ketua Unit Kerja Koordinasi Endokrinologi IDAI.

Berdasarkan usia, penderita diabetes terbanyak berada pada rentang usia 10-14 tahun dengan persentase sebesar 46,23 persen. Sementara itu, penderita diabetes anak berusia 5-9 tahun berada di posisi kedua dengan persentase sebesar 31,05 persen.

Mirisnya, sebanyak 19 persen dari total penderita diabetes pada anak dialami oleh balita berusia 0-4 tahun.

“Anak balita juga ada. Yang usianya 0-4 tahun yang terkena diabetes. Dari catatan kita itu ada sekitar 19 persen,” tambahnya.

Kebiasaan konsumsi makanan dan minuman manis

Menurut Fauzi, kasus diabetes pada anak di Indonesia melonjak tinggi disebabkan oleh gaya hidup yang tak terkendali. Salah satunya adalah kebiasaan konsumsi makanan dan minuman manis berlebihan.

Riset Kesehatan Dasar pada 2018, menyebutkan bahwa semakin muda golongan usia maka semakin banyak pula konsumsi makanan manis. Pada kelompok usia 3-4 tahun, sebanyak 59,6 persen adalah mereka yang mengkonsumsi makanan dengan kadar gula tinggi sebanyak satu kali lebih per harinya.

Tren serupa juga terjadi untuk konsumsi minuman manis. Sebanyak 68,6 persen anak usia 3-4 tahun mengkonsumsi minuman manis setiap harinya. Selanjutnya, persentase anak 5-9 tahun yang mengkonsumsi minuman manis sebanyak satu kali atau lebih per harinya mencapai 66,5 persen. Lalu pada rentang usia 10-14 tahun dengan persentase 61,9 persen dan rentang usia 15-19 tahun pada 56,4 persen.

Kedai makanan dan minuman manis tumbuh subur

Fakta dan data di atas cukup membuat dahi berkernyit lantaran banyaknya anak-anak usia muda Indonesia yang harus berdampingan dengan diabetes. Padahal mereka-mereka ini adalah tunas yang baru tumbuh untuk mengayomi negeri, namun sudah layu di usia muda.

Yang lebih miris lagi adalah kedai makanan dan minuman manis dari dalam maupun luar negeri yang tumbuh subur di negeri ini. Bahkan kota-kota kecil seperti Rembang sudah menjadi pasar baru bagi produk kuliner tinggi gula tersebut. Produk semacam roti, kue, es teh, es krim dan kuliner manis lainnya menjadi tren baru di daerah. Saat ini jika anda melewati jalan-jalan di Rembang akan dengan mudahnya menemui kedai minuman manis.

Yah, saya tak mampu membayangkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi dalam 10-20 tahun mendatang jika pola konsumsi ini terus ada di masyarakat. Apakah mungkin nanti bangsa kita kalah saing dengan bangsa lain karena sibuk mengurus diri yang sedang menderita diabetes? Semoga saja tidak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button