Pilihan

Begini Isolasi Mandiri yang Tepat Menurut Dokter

Pandemi covid-19 di Indonesia belum juga menunjukkan tanda-tanda penurunan. Berdasarkan laporan KPC-PEN, jumlah penambahan kasus baru mencapai lebih dari 40 ribu per tanggal 12 juli 2021. Jumlah ini mencakup mencakup penderita gejala berat, sedang, ringan dan tanpa gejala (OTG). Semua kasus pasien Covid-19 tentu harus dilakukan penanganan yang tepat sesuai kategorinya. Secara umum, penanganan pasien Covid-19 dapat dilakukan dengan menjalani perawatan di Rumah Sakit ataupun dengan isolasi mandiri.

Siapa saja yang boleh melakukan isolasi mandiri?

Saat ini rumah sakit dan pusat pelayanan kesehatan yang lain difokuskan untuk melayani pasien bergejala berat dan menengah. Sedangkan pasien bergejala ringan dan OTG dapat menjalani isolasi di pusat isolasi mandiri yang disediakan Pemerintah atau di rumah masing-masing.

Menurut Dicky Budiman, mayoritas atau 80 persen pasien covid-19 tidak mengalami gejala hingga bergejala ringan. Lebih lanjut epidemiolog Universitas Griffith Australia ini menghimbau kepada masyarakat untuk tidak perlu panik berlebihan dengan penambahan kasus baru ini. Masyarakat tidak perlu panik hingga mengkonsumsi berbagai obat kimia maupun produk makanan minuman yang diklaim mampu menghilangkan Covid-19.

Meskipun dihimbau untuk tidak terlalu panik, pasien bergejala ringan dan tanpa gejala harus tetap waspada dan melakukan tindakan yang tepat selama isolasi mandiri. Isolasi mandiri yang tidak tepat dapat membahayakan diri sendiri dan lingkungan sekitar.

Bagaimana isolasi mandiri yang tepat?

Menurut dokter tirta, pasien Covid-19 yang tidak bergejala cukup menjalankan isolasi mandiri selama 10 hari dan tidak perlu mengkonsumsi obat apapun cukup dengan memperbanyak asupan protein. Konsumsi suplemen diperbolehkan dengan syarat harus berkonsultasi dengan tenaga medis. Olahraga ringan diperbolehkan asalkan tidak sampai menguras tenaga hingga mengganggu proses pemulihan.

Pasien Covid-19 bergejala ringan dengan demam ringan, batuk ringan, nyeri sendi dan anosmia dapat mengkonsumsi obat-obatan untuk mengurangi gejalanya. Jika pasien memiliki gejala demam dapat mengkonsumsi paracetamol 500 mg sedangkan untuk gejala nyeri perut dapat mengkonsumsi antasida 500 mg.

Konsumsi obat-obatan ini tentu harus dikonsultasikan dengan tenaga medis. Pasien bergejala ringan sangat dianjurkan untuk mencukupi asupan cairan dengan memperbanyak minum air putih, air kelapa maupun air ion. Makanan berprotein tinggi juga dianjurkan untuk membantu pemulihan pasien bergejala ringan. Aktifitas fisik dan konsumsi antibiotik sangat tidak dianjurkan untuk pasien bergejala ringan.

Pasien bergejala ringan menjalankan isolasi mandiri selama 14 hari dan wajib melakukan tes PCR. Apabila setelah tes masih dinyatakan positif harus menjalani isolasi tambahan hingga 10 hari sejak hari pertama tanpa gejala. Setelah sembuh, ruangan yang digunakan oleh pasien isolasi mandiri baik OTG ataupun bergejala ringan dapat disemprot disinfektan.

Dokter tirta menyatakan bahwa pasien OTG dan bergejala ringan dapat menjalankan isolasi mandiri di rumah, hotel , ataupun pusat isolasi mandiri asalkan tidak mengalami gejala sesak nafas dan selalu berkonsultasi dengan tenaga medis. Apabila pasien isolasi mandiri mengalami gejala yang memberat seperti sesak nafas, saturasi oksigen dibawah 94, atau demam diatas 38 derajat celcius yang berkepanjangan dapat segera menghubungi petugas medis untuk dirujuk di Rumah Sakit atau pusat pelayanan kesehatan terdekat.

Apa yang diperlukan untuk isolasi mandiri di rumah?

Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc memberikan dua syarat untuk pasien yang akan melakukan isolasi mandiri dirumah. Pertama, pasien isolasi mandiri tidak boleh tinggal serumah dengan kelompok beresiko tinggi.Kedua, rumah yang akan digunakan isolasi mandiri harus terdapat ruang atau kamar tersendiri yang terpisah dengan anggota keluarga lainnya.

Kelompok beresiko tinggi yang dimaksudkan yaitu kalangan lansia, bayi, orang dengan daya tahan tubuh lemah, dan orang dengan komorbid atau penyakit bawaan. Erlina juga menambahkan agar pasien yang sedang isolasi mandiri tetap menjaga kesehatan mental denganĀ  mengerjakan hobi, tetap terhubung dengan keluarga atau sahabat secara daring, dan berdoa.

Gambar Header : Pixabay

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (1) in /home/kalasela/public_html/wp-includes/functions.php on line 5427

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (1) in /home/kalasela/public_html/wp-includes/functions.php on line 5427