OpiniPilihan

Pandemi dan Gangguan Mental

Pandemi covid-19 yang berlangsung sejak setahun lalu dan belum berakhir hingga saat ini menyebabkan bukan hanya penyakit fisik tapi juga mental.

Penyakit mental ini seringkali diabaikan oleh masyarakat karena kerap kali tidak terlihat dibandingkan dengan penyakit fisik. Gangguan mental kebanyakan disadari jika sudah mempengaruhi fisik seseorang.

Salah satu penyebab gangguan mental saat pandemi adalah tersebarnya berita-berita yang tidak benar di media TV maupun online yang menyebabkan ketakutan yang berlebihan hingga menyebabkan gangguan cemas, panik berlebihan, tidak mau memberi kabar bahkan secara online, mengurung diri dan antisosial.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) dari April – Agustus 2020, sebanyak 3.443 orang yang melakukan swaperiksa ternyata mengeluhkan masalah psikologis. Sekitar 47,9 persen di antaranya memperlihatkan gejala kecemasan, 36,1 persen menunjukkan gejala depresi dan 16 persen lainnya menyampaikan permasalahan trauma psikologis.

Dari seluruh data responden dari 34 provinsi tersebut, 85 persen di antaranya ialah perempuan. Pada laporan swaperiksa PDSKJI per Mei 2020, dari keseluruhan responden yang menunjukkan gejala depresi, 49 persen di antaranya berpikir untuk melukai diri sendiri (bunuh diri).

Apa saja sih jenis-jenis gangguan mental saat pandemi ini?

1. Gangguan Cemas (Anxiety Disorder)

Cemas (Anxiety) merupakan hal yang wajar dan punya manfaat, salah satunya untuk menyadari ancaman/ hal – hal buruk yang akan terjadi dan bisa mengendalikannya.

Hal ini berbeda dengan gangguan cemas (Anxiety Disorder), lalu apa perbedaannya ?

  •  Cemas, masalahnya ada dan nyata. Sedangkan gangguan cemas, masalahnya bisa jadi ngga ada dan bisa juga disebabkan oleh phobic (ketakutan yang berlebihan).
  • Saat cemas, intensitasnya bisa dikendalikan. Sedangkan intensitas pada gangguan cemas tidak bisa dikendalikan sehingga mengganggu kehidupan sehari-hari.
  • Frekuensi pada cemas terjadi tergantung saat masalahnya ada. Sedangkan pada gangguan cemas, frekuensinya lebih banyak daripada cemas normal.
  • Durasi pada cemas normal dapat selesai saat masalah pemicunya selesai juga. Namun pada gangguan cemas, walaupun masalah pemicunya selesai atau bahkan tidak ada masalah pun, durasinya sulit berakhir dan terus berlanjut.
  • Gangguan cemas ditandai oleh sakit kepala, cepat lelah, mual, sesak, tegang, insomnia, dan sulit berkonsentrasi. Pada tingkat berat, gangguan cemas perlu penanganan psikolog maupun psikiater.

2. Depresi

Depresi adalah gangguan mental berupa gangguan mood yang mempunyai durasi yang lebih panjang yaitu minimal 2 minggu, dengan ciri utama kehilangan kesenangan, tidak berenergi, dan mood depresif disertai dengan penurunan berat badan, gangguan tidur, putus asa, merasa tidak ada harapan, tidak berdaya, bahkan pada tingkat berat dapat memicu bunuh diri.

Pada depresi, terjadi gangguan pada otak yang dapat menyebabkan berkurangnya sensitivitas sehingga dapat berakibat pada menurunnya daya ingat dan gangguan konsentrasi.

Gangguan depresi perlu diobati dan perlu konsultasi pada psikiater ataupun psikolog agar depresi tidak berlanjut pada tingkat berat.

3. Skizofrenia

Skizofrenia adalah gangguan mental tingkat berat yang dapat mempengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku. Penderita skizofrenia tidak dapat membedakan antara khayalan dan kenyataan. Oleh masyarakat, penderita skizofrenia sering disebut sebagai “gila”. Perilaku-perilakunya dapat mengganggu kehidupan sehari-hari.

Penderita skizofrenia mempunyai gejala awal yaitu cenderung mengasingkan diri dari orang lain, mudah marah dan depresi, perubahan pola tidur, kurang konsentrasi dan motivasi serta kesulitan dalam mengerjakan tugas sekolah. Pada tingkat lanjut, penderita skizofrenia dapat mengalami halusinasi, delusi, kacau dalam berpikir dan berbicara, kacau dalam berperilaku, dan mengalami ilusi.

Penderita skizofrenia perlu pengobatan pada psikolog maupun psikiater.

4. Gangguan Kepribadian (Personality Disorder)

Gangguan kepribadian adalah gangguan mental yang dapat menyebabkan gangguan pola pikir dan terlalu yang tidak normal dan sulit diubah.

Berikut ini merupakan gejala-gejala umum gangguan kepribadian, yaitu :

  • Senantiasa diliputi perasaan negatif, seperti stres, gelisah, perasaan tidak berharga, atau amarah.
  • Kerap mnghindari orang lain, tidak percaya pada orang lain, merasa hampa, dan tidak terhubung secara emosional.
  • Sulit mengendalikan perasaan dan perilaku yang negatif.
  •  Sering tidak mampu menjaga hubungan yang stabil dan dekat dengan orang lain, termasuk keluarga dan teman.
  • Kadang kehilangan kontak dengan realita.
  • Terkadang memiliki masalah penyalahgunaan zat (kecanduan).

Ada 3 tipe gangguan kepribadian, yaitu :

  1. Tipe A
    Ciri-ciri : curiga, paranoid, schizoid, dan skizotypal.
  2. Tipe B
    Ciri-ciri : emosional dan impulsif, gangguan kepribadian antisosial, borderline personality disorder, histronic personality disorder, dan gangguan kepribadian narsistik.
  3. Tipe C
    Ciri-ciri : gelisah, avoidant personality disorder, dependent personality disorder, dan Obsessive-compulsif personality disorder (OCPD).

Gangguan kepribadian perlu penanganan psikolog maupun psikiater.

5. Gangguan Bipolar (Bipolar Disorder)

Gangguan bipolar adalah gangguan mental yang menyebabkan perubahan mood berupa kesenangan berlebihan dan kesedihan berlebihan. Gangguan bipolar dapat mempengaruhi kualitas hidup dan karir penderitanya.

Gangguan bipolar ditandai oleh perubahan mood yang berlebihan, penurunan konsentrasi dan daya ingat, sering merasa bersalah bahkan pada masalah kecil, gangguan tidur, halusinasi, delusi, dan kemarahan paranoid.

Gangguan bipolar perlu penanganan psikolog maupun psikiater.

Dengan mengetahui jenis jenis gangguan mental dan tanda-tandanya tersebut diatas, kita bisa sadar akan pentingnya menjaga kesehatan mental terutama di masa new normal saat pandemi seperti sekarang ini. Yoga dan mindfulness adalah salah satu cara yang efektif untuk menjaga kesehatan mental selama di rumah. Penderita gangguan mental tidak boleh kita kucilkan, justru kita harus peduli dan mencarikan pengobatan agar penderitanya tidak semakin parah.

Diagnosa penyakit gangguan mental juga tidak boleh dilakukan sendiri, harus dengan pendampingan ahli. Jika Anda merasa tidak baik-baik saja karena pandemi yang tak kunjung usai coba konsultasikan ke profesional di bidangnya. Toh sekarang banyak telemedicine yang memudahkan kita konsultasi ke dokter atau profesional di bidang kesehatna mental.

Sumber referensi :

Kesehatan Jiwa di Masa Pandemi COVID-19, Makin Terancam?

https://www.alodokter.com/mengenal-anxiety-yang-mengganggu-dan-berbagai-jenisnya

https://www.alodokter.com/skizofrenia/gejala

https://hellosehat.com/mental/mental-lainnya/personality-disorder/

Gangguan Bipolar: Ini Dia Tanda dan Gejalanya

https://pixabay.com/id/illustrations/mental-kesehatan-kesehatan-mental-2470926/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button