Opini

Ekonomi Lesu Tapi Kepuasan Publik Meningkat, Kok Bisa?

Kalasela.id– Dalam situasi ekonomi yang sedang lesu, mengejutkan bahwa kepuasan publik terhadap Presiden Jokowi justru meningkat. Banyak yang bertanya-tanya, bagaimana mungkin ini terjadi? Apakah ini sebuah paradoks politik, atau ada faktor lain yang berperan di balik layar?

Realitas Ekonomi yang Lesu

Pertama-tama, mari kita lihat kondisi ekonomi saat ini. Beban utang negara meningkat tajam, pertumbuhan ekonomi stagnan di sekitar angka 5%, daya beli masyarakat menurun, dan tingkat kemiskinan Indonesia masih tinggi di angka 9,36%. Bahkan, sektor-sektor andalan seperti tekstil sedang mengalami krisis. Gelombang PHK massal yang terjadi di industri tekstil hanyalah puncak gunung es dari berbagai masalah ekonomi yang lebih besar.

Selain itu, nilai tukar rupiah terus terpuruk, dan investasi asing mulai merosot. Ini adalah beberapa indikator yang menunjukkan bahwa perekonomian kita sedang tidak sehat. Dengan semua masalah ini, masuk akal jika masyarakat merasa cemas dan tidak puas. Namun, kenyataannya, justru sebaliknya yang terjadi.

Permainan Persepsi dan Strategi Komunikasi

Ada satu hal yang tidak bisa diremehkan dalam politik modern: kekuatan persepsi. Pemerintahan Jokowi tampaknya sangat lihai dalam memainkan permainan persepsi ini. Lewat berbagai media, pemerintah berhasil membentuk narasi positif yang terus-menerus dikonsumsi oleh publik. Dengan bantuan partai, influencer dan media sosial, citra positif Jokowi terus dibangun.

Dalam dunia yang semakin digital, kecepatan dan penyebaran informasi sangat berpengaruh. Jokowi dan timnya tampaknya sangat memahami ini dan memanfaatkannya dengan sangat baik. Mereka terus-menerus membombardir publik dengan berita-berita positif, proyek infrastruktur baru, kunjungan kerja, dan berbagai pencapaian yang mereka rayakan secara berlebihan. Sebagai contoh, ketika Elon Musk datang ke Indonesia, mereka menyambutnya dengan berbagai acara seremonial, termasuk foto bersama, dengan harapan akan ada investasi besar darinya. Namun, pada kenyataannya, investasi yang masuk hanya sebesar Rp 30 miliar.

Kesenjangan Antara Harapan dan Realitas

Satu hal yang juga menjadi perhatian adalah kesenjangan antara harapan dan realitas. Masyarakat mungkin masih ingat janji-janji manis Jokowi saat kampanye. Setiap janji yang terwujud, betapapun kecilnya, dipuji seolah-olah merupakan pencapaian besar. Misalnya, pembangunan infrastruktur memang terlihat megah dan membanggakan, tetapi apakah itu benar-benar menyentuh kehidupan sehari-hari rakyat kecil?

Pemerintahan Jokowi juga sering kali menggunakan taktik “pengalih perhatian”. Ketika ada masalah besar yang muncul, segera saja menyuguhkan isu lain yang lebih menarik atau emosional kepada publik. Taktik ini terbukti efektif dalam menjaga tingkat kepuasan publik tetap tinggi, meskipun masalah-masalah fundamental tidak pernah benar-benar terselesaikan.

Sentimen Populisme dan Simpati Publik

Faktor lain yang mungkin berkontribusi pada meningkatnya kepuasan publik adalah sentimen populisme yang kuat. Jokowi berhasil membangun citra sebagai “pemimpin dari rakyat, untuk rakyat”. Gaya bicaranya yang sederhana dan penampilannya yang merakyat membuat banyak orang merasa dekat dan simpatik padanya.

Terlebih lagi, berbagai bantuan sosial dan program subsidi yang pemerintah kucurkan mungkin memberikan kesan bahwa pemerintah “peduli” dengan rakyat kecil. Meskipun program-program tersebut sering kali tidak menyelesaikan masalah jangka panjang, mereka cukup untuk membangun persepsi positif dalam jangka pendek.

Ilusi Kepuasan Publik di Tengah Kesulitan

Kepuasan publik yang meningkat di tengah ekonomi yang lesu adalah sebuah ironi. Ini menunjukkan bahwa dalam politik, persepsi bisa lebih kuat daripada realitas. Dengan permainan persepsi yang cerdas, strategi komunikasi yang efektif, dan sentimen populisme, pemerintahan Jokowi berhasil menjaga tingkat kepuasan publik tetap tinggi.

Namun, ini semua hanyalah ilusi jika tidak berbarengan dengan perbaikan nyata dalam perekonomian. Seiring waktu, realitas akan mengejar persepsi. Dan ketika itu terjadi, mungkin akan ada lebih banyak orang yang menyadari bahwa mereka telah terbuai oleh janji-janji manis yang tidak pernah terwujud sepenuhnya. Apakah publik akan terus tertipu oleh ilusi ini, ataukah akan mulai menuntut perubahan nyata? Waktu yang akan menjawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (1) in /home/kalasela/public_html/wp-includes/functions.php on line 5427

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (1) in /home/kalasela/public_html/wp-includes/functions.php on line 5427