Ilustrasi Kapal oleh Pixabay
Ilustrasi Kapal oleh Pixabay

Dampo Awang : Cerita Rakyat Rembang yang Melegenda

Kemajemukan budaya dan adat di Nusantara telah banyak melahirkan kisah-kisah yang secara turun temurun dituturkan oleh generasi bangsa ini. Para pendahulu bangsa ini menggunakan kisah-kisah tersebut untuk memberikan pesan dan pengajaran nilai-nilai kehidupan yang sesuai dengan budaya dan adat zaman itu. Hingga saat ini masih banyak kisah dan cerita rakyat yang tidak tercatat dalam lembaran kertas dan pena namun abadi dalam ingatan dan tutur pendahulu kita.


Tak jarang interaksi antar budaya melahirkan interpretasi baru tentang kisah dan cerita rakyat sehingga muncul versi lain dari cerita tersebut. Banyak kisah dan cerita rakyat disuatu tempat yang memiliki kemiripan satu dengan yang lainnya dari segi rangkaian kisah ataupun nilai pengajaran meskipun terkadang tokoh dan plot tempat mengalami perubahan.


Kisah dan cerita yang melegenda ini bisa jadi merupakan cara para pendahulu untuk mengajarkan sejarah kepada penerusnya secara sembunyi-sembunyi karena tekanan penjajahan pada zaman itu. Atau bahkan bisa jadi kisah dan cerita yang melegenda ini adalah cara yang dilakukan oleh penjajah untuk mengaburkan sejarah yang sebenarnya sehingga mental terjajah selalu terpatri dalam jiwa penerus bangsa.


Salah satu kisah yang terkenal di Rembang adalah kisah DAMPO AWANG. Bahkan benda yang dipercayai oleh masyarakat sebagai jangkar kapal Dampo Awang kini masih terjaga di Taman Kartini Rembang. Selain itu, Dampo Awang juga dipilih menjadi julukan bagi tim sepakbola Rembang PSIR. Hali ini menunjukkan betapa erat dan pentingnya kisah Dampo Awang bagi masyarakat Rembang. Meskipun Dampo Awang ini penting bagi masyarakat Rembang tetapi tidak ada yang tau pasti tentang kisah dan cerita yang sebenarnya. Saat ini ada beberapa versi kisah Dampo Awang yang terkenal di masyarakat antara lain adalah sebagai berikut.

Baca Juga : Tradisi Maritim di Rembang dalam Catatan Sejarah

1. Juru Mudi Laksamana Cheng Ho

Wang Ching Hong adalah seorang juru mudi kapal sekaligus pengikut Laksamana Cheng Ho. Pada saat hendak berlabuh ke Semarang, Wang Ching Hong menderita sebuah penyakit sehingga harus menjalani pengobatan di sebuah tempat tak jauh dari pelabuhan.

Kemudian Laksamana Cheng Ho dan pengikutnya mendirikan sebuah pondok untuk merawat Wang Ching Hong. Setelah kesembuhannya, Wang Ching Hong dan beberapa pengikutnya menetap dilokasi tersebut dan berkegiatan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Para pengikut dan Wang Ching Hong juga menikah dengan penduduk setempat. Nama Dampo Awang sendiri dipercaya sebagai nama Jawa dari Wang Ching Hong.

2. Kisah Anak Durhaka

Zaman dahulu di Rembang hidup seorang janda Tionghoa Mai Lae dengan 3 anaknya yaitu Dampo Awang, Dampo Awung , dan Dampo Awing. Dampo Awang adalah anak sulung dari tiga saudara itu dengan karakter yang ambisius dan pekerja keras.

Mereka hidup serba kekurangan dengan penghasilan rendah dari pekerjaan yang serabutan. Ketika dewasa Dampo Awang bertekad untuk merubah nasibnya dan keluarganya dengan merantau ke negeri seberang. Dengan berat hati Mai Lae melepas anaknya untuk merantau sembari memberikan nasehat untuk anaknya.

Singkat cerita, Dampo Awang kembali pulang kampung setelah menjadi saudagar kaya dengan membawa istrinya yang cantik dan beberapa pengawalnya. Sesampainya ia di dermaga, Mai Lae menghampiri putra sulungnya dengan tergesa-gesa dan penuh rasa bahagia. Mai Lae kemudian memeluk Dampo Awang dengan gembira namun dampo awang menghindar dan menghina dirinya. Dampo Awang tidak mengakui Mai Lae sebagai ibu yang telah melahirkan dia.

Mendapati perlakuan anaknya tersebut, Mai Lae murka dan mengutuk Dampo Awang agar tenggelam ditengah lautan bersama dengan harta yang ia banggakan.

Benar saja, saat Dampo Awang berlayar untuk kembali ke perantauannya, tiba-tiba hujan badai menghantam kapalnya hingga ia tewas ditengah lautan bersama rombongannya menyisakan sang istri.

3. Kisah Dampo Awang dan Sunan Bonang

Diceritakan Dampo Awang adalah saudagar kaya dari Champa yang pergi ke tanah Jawa untuk mengajarkan ajaran Khong Hu Cu bersama para pengawalnya. Pada suatu saat setelah ia tiba di daratan Tanah Jawa, ia bertemu dengan Sunan Bonang. Pada pertemuan itu Dampo Awang memperlihatkan sikap yang kurang sopan terhadap Sunan Bonang. Dampo Awang takut jika ajaran yang ia bawa dan ia ajarkan selama ini akan hilang digantikan dengan ajara Islam yang dibawa Sunan Bonang.

Kemudian Dampo Awang kembali ke negerinya untuk menyusun strategi dan kekuatan baru. Beberapa tahun setelahnya ia kembali dengan membawa banyak tentara lebih dari sebelumnya. Namun ia kaget mendapati penduduk saat itu sudah menganut agama Islam yang diajarkan Sunang Bonang.

Kemarahan memuncak dan mendorong Dampo Awang untuk menyerang Sunan Bonang pada pertemuan mereka berdua. Akan tetapi Sunan Bonang dapat mengalahkan Dampo Awang dan mengikatnya di dalam kapal. Kemudian kapal tersebut ditendang oleh Sunan Bonang hingga seluruh bagian kapal tersebar kemana-mana.

 

Tiga kisah diatas adalah kisah yang menyertai legenda Dampo Awang di masyarakat Rembang. Dari ketiga cerita itu mungkin ada yang kurang sesuai dengan pandangan sebagian masyarakat atau bahkan ada versi lain dari kisah ini. Hal tersebut tentu sangat wajar karena yang namanya kisah dan legenda diceritakan oleh banyak penutur dengan berbagai latar belakang.

Terlepas dari hal tersebut tentu sangat penting untuk mengambil pelajaran dari kisah-kisah ini. Tak kalah penting juga untuk terus mencari kebenaran yang ada dibalik cerita rakyat sehingga dapat menemukan kisah asli alias titik terang yang menjadi cikal bakal munculnya kisah legenda ini. Siapa tahu ketika kita menggali fakta sejarah akan menemukan jatidiri yang luhur dari suatu kelompok masyarakat. Jika bukan kita, maka siapa lagi yang akan menjaga, melestarikan dan meluruskan kisah ini untuk generasi mendatang.