Belajar dari Sesepuh Agung, Haji Agus Salim

Kisah Keteladanan Haji Agus Salim
Foto : Arsip Nasional Republik Indonesia

Hari kemerdekaan Republik Indonesia merupakan momen paling penting dalam sejarah panjang Republik ini. Semua elemen masyarakat selalu menyambut peringatan kemerdekaan dengan suka cita dan penuh rasa syukur.

Sebelum adanya pandemi covid-19, segala macam umbul-umbul dapat dengan mudah dijumpai mulai dari jalanan kota hingga pelosok desa dan bahkan sangat wajar kita jumpai berbagai perlombaan antar RT, kampung atau desa dalam menyemarakkan momen peringatan kemerdekaan ini. Namun, pada saat pandemi ini tampaknya kita harus merelakan segala kemeriahan tersebut.

Pandemi ini mungkin membuat perayaan kemerdekaan tahun ini tidak semeriah perayaan kemerdekaan beberapa tahun kemarin namun bukan berarti tidak lebih bermakna dari tahun-tahun tersebut. Justru dalam keadaan yang sulit ini membuat kita dapat lebih mensyukuri nikmat yang selama ini telah diberikan oleh Tuhan kepada bangsa ini berupa kemerdekaan. Kemerdekaan yang diperoleh ini pun bukan dengan perjuangan yang mudah melainkan dengan pengorbanan jiwa dan raga para pahlawan dan pejuang masa itu.

Jika kita menggali lagi peristiwa sejarah bangsa ini, maka akan banyak sekali pelajaran yang dapat kita temukan dari tokoh-tokoh tersebut saat melalui keadaan yang lebih sulit dari apa yang kita hadapi sekarang ini. Haji Agus Salim mungkin adalah satu dari sekian banyak tokoh dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia yang dapat kita jadikan sebagai teladan.

Semasa hidupnya, Haji Agus Salim dikenal sebagai diplomat ulung yang mampu berdiskusi dengan orang yang tidak sekolah sama enaknya dengan berdiskusi dengan seorang lulusan sekolah ternama. Pria yang lahir pada 8 Oktober 1884 di Kota Gadang, Sumatera Barat ini memiliki nama asli Musyudul Haq yang artinya Pembela Kebenaran. Sesuai dengan namanya, Haji Agus Salim adalah pribadi yang memiliki kejujuran, keteguhan, kecerdasan, keberanian dan kecintaan yang mendalam terhadap Indonesia.

Pada masanya, Haji Agus Salim bisa dibilang sebagai orang Indonesia paling cerdas dengan menguasai 7 bahasa asing yaitu Belanda, Inggris, Jerman, Prancis, Arab, Turki, dan Jepang. Kepiawaiannya dalam penguasaan bahasa menjadikan beliau sering mewakili Indonesia dalam urusan diplomasi dan perundingan Internasional lain setelah kemerdekaan Indonesia.

Berdasarkan tulisan Faisal Basri, Belanda pernah dibuat pusing oleh langkah Haji Agus Salim dan Sutan Sjahrir  yang dalam konferensi Inter-Asia tahun 1947 di New Delhi sukses mengikat janji dengan Jawaharlal Nehru (Bapak India) dan Muhammad Ali Jinnah (Bapak Pakistan) untuk saling mendukung kemerdekaan negara masing-masing. Yang kemudian ditanggapi oleh Belanda dengan Agresi Militer I. Mendapati Agresi Militer I Belanda, Haji Agus Salim selaku menteri luar negeri waktu itu menyikapinya dengan melakukan diplomasi ke negara di Timur Tengah hingga berhasil mendapatkan dukungan dari Mesir, Lebanon dan Suriah. Dukungan dari Mesir ini menjadi penting karena ini adalah pengakuan secara de jure pertama yang diterima Indonesia sejak Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Dukungan ini kemudian terus berlanjut saat Burma, India, dan Pakistan yang baru merdeka juga mengakui kedaulatan Indonesia. 

Ada satu momen menarik ketika Haji Agus Salim merokok pada saat pertemuan resmi. Asap rokok yang menyebar di ruangan itu membuat orang Eropa tidak nyaman dan bertanya apa yang dihisap oleh Haji Agus Salim. Haji Agus Salim menjawab, “Ini tuan, adalah benda yang membuat tuan-tuan datang dan menjajah negeri kami. Cengkeh.” Lalu orang tersebut terdiam.

M. Fazil Pamungkas dalam tulisannya menyatakan bahwa hanya satu orang yang pernah mengalahkan pria berjuluk The Grand Old Man alias Sesepuh Agung dalam urusan bercakap-cakap yaitu seorang perempuan yang diketahui bernama Mrs. De Hartog yang membuat suara Haji Agus Salim nyaris tak terdengar selama satu setengah jam percakapan dengannya.

Meskipun pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri pada kabinet Sjahrir, Amir Sjarifudin, dan Hatta, keadaan ekonomi Haji Agus Salim faktanya tidak seperti seorang pejabat pada umumnya. Selama hidupnya Haji Agus Salim tidak memiliki rumah tinggal pribadi sehingga sering berpindah-pindah dari kontrakan satu ke lainnya. Bahkan diceritakan keadaan rumah kontrakan yang berada di gang sempit ini tidak besar dan sering kebocoran saat hujan. Nasi goreng kecap dan mentega pun menjadi  makanan favorit keluarga Haji Agus Salim khususnya ketika tidak ada makanan yang lebih bergizi dan tidak ada uang. Menjalani keseharian tersebut tidak jadi masalah bagi Haji Agus Salim karena baginya leiden is lijden alias memimpin itu menderita. Bisa dikatakan bahwa adalah panutan bagi tokoh lain dalam hal integritas. Beliau tak pernah berkompromi atau memperkaya diri dengan menggadaikan cintanya terhadap negeri. Hingga pada tanggal 4 November 1954, beliau wafat dalam kesederhanaan dengan meninggalkan kenangan di rumah kontrakannya.

Haji Agus Salim adalah pahlawan pertama yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata dan dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional beberapa tahun setelah wafatnya. Sosok dan keteladanan beliau akan  selalu abadi dalam ingatan bangsa ini. Semoga Tuhan menempatkan beliau dalam golongan orang yang mendapatkan ridho-Nya.