OpiniRembangRembang Hari Ini

Belajar Membentuk Pilar Perekonomian dari Sejarah Rembang 200 Tahun Lalu

Tahun ini Kabupaten Rembang telah resmi berusia 281 dan baru saja peringatan hari jadi tersebut terselenggara pada tanggal 27 juli 2022. Di usia yang hampir menuju 3 abad, kita masih saja dipusingkan dengan berbagai macam persoalan semacam kemiskinan, kesehatan, dan terutama perekonomian. Kita lihat berdasarkan data yang diterbitkan oleh BPS Kabupaten Rembang, angka kemiskinan penduduk tahun 2021 mengalami kenaikan dibanding tahun sebelumnya. Meski kenaikannya tidak signifikan, angka ini cukup untuk menempatkan Kabupaten Rembang berada pada posisi 7 dari 35 kabupaten/kota se-Jawa Tengah. Di wilayah eks-keresidenan Pati, Rembang menduduki peringkat pertama dalam presentase penduduk miskin.

Untuk melihat kondisi perekonomian masyarakat Rembang saat ini, tentu data ini saja tidak dapat dijadikan acuan. Oleh karena itu, kita juga perlu untuk melihat data pertumbuhan ekonomi Kabupaten Rembang di tahun yang sama. Berdasarkan laporan BPS juga, diketahui bahwa tahun 2021 Kabupaten Rembang mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 3,85 persen. Sebelumnya, tahun 2020 perekonomian rembang mengalami konstraksi sebesar -1,49 persen. Banyak hal yang menjadi penyebab pertumbuhan ekonomi di Rembang tidak maksimal, terutama adalah pandemi covid-19 yang melanda Indonesia sejak Maret 2020. Penurunan pertumbuhan ekonomi sebenarnya juga terjadi di seluruh daerah bahkan seluruh dunia.

Angka pertumbuhan ini sebenarnya termasuk kabar baik karena mengindikasikan kebangkitan perekonomian Rembang yang diharapkan akan terus meningkat. Saya juga mengapresiasi kinerja seluruh pihak yang terlibat dalam rangka membangkitkan perekonomian Rembang yang hancur lebur diterpa Covid-19. Tentu saja sinergi antara pemerintah dan masyarakat lah yang menjadikan hal ini dapat terwujud.

Akan tetapi, kita juga tidak boleh berpuas diri dengan hal tersebut karena tugas kita belum usai. Masih banyak yang belum kita tuntaskan seperti masalah yang sudah disebutkan tadi. Terutama persoalan perekonomian Rembang yang berdasarkan data di atas cukup jauh tertinggal dari kabupaten lain di sekitar Rembang. Lebih memprihatinkan lagi adalah banyak dari kita yang bahkan tidak tahu posisi ketertinggalan kita. Banyak sekali dari kita yang merasa Rembang baik-baik saja padahal kenyataaannya tidak seperti itu. Sebagian dari mereka masih hidup dalam kenangan kejayaan Rembang dimasa lampau. Sehingga seringkali muncul sikap optimisme yang berlebihan dan menganggap semua masalah akan dapat teratasi seperti pada masa kejayaan itu.

Tidak ada yang salah dengan mengigat sejarah dan masa kejayaan Rembang, justru hal itu sangat bagus dan saya sangat mendukung hal tersebut. Namun, kita juga harus bijak dalam menyikapi sejarah. Tidak baik jika kita terlena dengan sejarah kejayaan Rembang sehingga kita lalai dalam mengurus Rembang dan menyiapkannya untuk generasi mendatang. Daripada terus hidup dalam kenangan sejarah, alangkah lebih baik jika kita menggunakan sejarah sebagai bahan untuk belajar dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan kedepan. Setuju?

200 tahun lalu atau sekitar tahun 1820 an, Rembang merupakan kota pelabuhan perdagangan yang ramai. Banyak pedangang dari Arab, China, dan Eropa yang berlabuh di Rembang untuk menjual dagangannya atau membeli dagangan orang lokal untuk dijual kembali di kota. Meski tidak tergolong pelabuhan yang besar, kegiatan ekspor-impor banyak dilakukan melalui pelabuhan ini. Sejak 1820 hingga 1850 setidaknya ada puluhan hingga ratusan ribu kapal dagang yang singgah di pelabuhan Rembang.

Adanya pelabuhan saat itu sangat berdampak terhadap perekonomian masyarakat Rembang. Pelabuhan mampu meningkatkan gairah dan taraf perekonomian masyarakat Rembang saat itu. Adanya pelabuhan dagang menjadikan harga komoditas di Rembang menjadi lebih stabil. Selain itu, Pelabuhan juga memperlancar distribusi barang yang dibutuhkan oleh masyarakat setempat maupun produksi barang yang dibutuhkan oleh masyarakat daerah lain. Dengan demikian, pelabuhan telah mempengaruhi munculnya peluang bagi para pedagang, baik yang berasal dari wilayah Rembang sendiri maupun dari luar Rembang.

Berlangsungnya perdagangan, dalam kaitannya dengan pelabuhan, ternyata juga mempengaruhi peredaran uang di Rembang. Perputaran uang dari ekspor impor dan juga tarif cukai perdagangan yang dikenakan waktu itu mencapai puluhan ribu gulden Hindia Belanda.

Selain itu, untuk memenuhi kebutuhan peralatan kapal, penduduk sekitar mulai membangun usaha pembuatan layar, tali kapal, jala, dayung dan sebagainya. Industri pembuatan kapal dan perbaikan kapal pun tumbuh subur di sekitar pelabuhan. Pelanggang utama mereka adalah kapal kapal perdangangan yang keluar masuk pelabuhan Rembang.

Intinya eksistensi pelabuhan Rembang, meskipun berkedudukan sebagai pelabhuan yang relatif kecil, tetapi berpengaruh besar dalam memperlancar roda perekonomian regional Rembang. Dalam kata lain, pelabuhan ini menjadi pilar ekonomi Rembang yang mampu menggerakkan usaha perdagangan, jasa, pertanian dan usaha lainnya yang ada di Rembang waktu itu.

Nah, yang menjadi pertanyaan adalah apakah yang menjadi pilar perekonomian Rembang Saat ini? Silahkan tulis pendapat anda di kolom komentar. (MHZ)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button