OpiniPilihan

Belajar Beradab dari Masyarakat Adat

Teknologi dan Modernisasi adalah dua hal yang saat ini bersatu padu dan menjadi sangat penting dalam kehidupan masyarakat saat ini. Kemajuan dan perkembangan teknologi memberikan kemudahan, kecepatan dan kenyamanan dalam beraktifitas. Namun seiring kemajuan dan perkembangan yang dianggap sebagai modernisasi ini ternyata tak juga lepas dari permasalahan yang mendasar salah satunya adalah ketersediaan pangan.

Permasalahan ini dapat dikatakan sebagai masalah utama yang sampai sekarang belum dapat tertangani secara baik. Sejauh ini langkah yang diambil dalam mengatasi masalah pangan adalah dengan membuat lahan pertanian baru, mekanisasi, membuat bendungan dan penggunaan bibit hasil rekayasa genetika untuk memperoleh hasil pertanian yang berlipat ganda. Fokus utama dari langkah ini adalah untuk memproduksi bahan pangan sebanyak-banyaknya sehingga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Lalu, sejauh mana langkah ini efektif?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita terlebih dahulu harus melihat akar permasalahan dari persoalan ini. Persoalan ketersediaan pangan tidak semata-mata hanya disebabkan dari kurangnya produksi bahan pangan tetapi juga dikarenakan oleh perubahan sosial budaya masyarakat. Banyak masyarakat di daerah telah berubah pola konsumsi pangan setelah periode revolusi hijau berlangsung di Indonesia tahun 1980-an.

Sebelum Revolusi Hijau, masyarakat di daerah memiliki pola pertanian mereka masing-masing dan mampu untuk memenuhi kebutuhan kelompoknya. Namun setelah Revolusi Hijau, masyarakat didorong untuk merubah cara bertani mereka mengikuti arahan yang diberikan oleh petugas berwenang yang sekaligus juga merubah pola konsumsi pangan secara nasional. Dalam waktu singkat revolusi hijau ini membuat pola konsumsi masyarakat yang awal beragam menjadi homogen yang kemudian menyebabkan kebutuhan akan salah satu bahan pangan meningkat secara drastis.

Saat ini konsumsi pangan identik dengan nasi beras, bahkan ada ungkapan bahwa belum makan jika tidak dengan nasi. Itu adalah pola baru yang timbul setelah perubahan besar sistem pertanian kita. Ditambah lagi dengan kebiasaan sebagian masyarakat modern yang menyisakan makanan dalam piring saji mereka. Jika kita hitung berapa banyak jumlah makanan sisa yang semestinya dapat diberikan kepada orang lain tentu jumlah tersebut akan membantu mengurangi permasalahan ketersediaan pangan.

Sepertinya kita harus belajar dari masyarakat adat yang sampai saat ini tetap berpegang teguh dengan nilai-nilai luhur adatnya. Masyarakat yang hidup sederhana tidak berlebihan mengambil hasil alam, menjaga alam sebagaimana menjaga diri mereka, jujur dan berkata apa adanya. Mereka memiliki sistem kemasyarakatan sendiri yang menghormati hak individu dan juga hak komunitas.

Sistem pertanian mereka yang sederhana nyatanya mampu untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri meskipun tanpa ahli pertanian dan alat mesin mutakhir. Bahkan mereka sudah mempersiapkan lumbung-lumbung pangan untuk berjaga-jaga seandainya terjadi gagal panen berkepanjangan. Filosofi yang mereka pegang adalah kebersamaan, tidak ada saya tanpa kamu dan tidak ada kamu tanpa saya. Begitulah kira-kira kehidupan masyarakat yang selama ini dianggap primitif namun sebenarnya lebih beradab daripada masyarakat modern sekalipun.

Sekali lagi, tidak ada alasan untuk tidak belajar beradab dari mereka masyarakat adat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (1) in /home/kalasela/public_html/wp-includes/functions.php on line 5427

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (1) in /home/kalasela/public_html/wp-includes/functions.php on line 5427