Terkini

Bea Cukai Jadi Sorotan Publik, Apa yang Terjadi?

Kalasela.id– Baru-baru ini, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) menjadi sorotan publik setelah beberapa kasus terkait pungutan bea masuk dan sanksi yang dinilai tidak wajar beredar di media sosial. Apa yang sebenarnya terjadi?

Kasus Sepatu Rp10 Juta Dikenakan Bea Masuk Rp31 Juta

Salah satu kasus yang paling viral adalah kisah Radhika Althaf yang membeli sepatu Adidas Adizero F50 seharga Rp10,3 juta. Namun, Bea Cukai mengenakan tagihan bea masuk senilai Rp31,8 juta kepadanya. Bea Cukai menjelaskan bahwa nilai pabean sepatu tersebut telah diubah oleh pihak jasa pengiriman dari US$553,61 menjadi US$35,37.

Radhika merasa keberatan dengan sanksi tersebut karena dia merasa tidak melakukan “under invoicing” (menurunkan harga barang dari nilai sebenarnya). Dia telah berusaha menyelesaikan masalah ini dengan Bea Cukai dan pihak jasa pengiriman, namun belum ada solusi yang memuaskan.

Kasus Hibah Alat Belajar Tunanetra Dikenakan Bea Masuk Rp361 Juta

Kasus lain yang tak kalah heboh adalah hibah 20 unit alat belajar untuk penyandang tunanetra dari Korea Selatan ke Sekolah Luar Biasa-A Pembina Tingkat Nasional Jakarta. Hibah tersebut awalnya dibebaskan dari bea masuk, namun kemudian Bea Cukai menagih bea masuk senilai Rp361 juta.

Pihak sekolah merasa keberatan dengan tagihan tersebut karena mereka tidak mampu membayarnya. Kasus ini akhirnya mendapat perhatian dari Menteri Keuangan Sri Mulyani yang menginstruksikan agar Bea Cukai membantu menyelesaikan masalah ini.

Tanggapan Bea Cukai dan Pengamat

Bea Cukai telah menyatakan bahwa mereka bertindak sesuai dengan peraturan yang berlaku dalam kedua kasus tersebut. Mereka juga menekankan pentingnya menegakkan aturan untuk melindungi industri dalam negeri dan mencegah “under invoicing”.

Namun, beberapa pengamat dan publik mempertanyakan cara Bea Cukai dalam menegakkan aturan tersebut. Mereka menilai bahwa Bea Cukai kurang transparan dan komunikatif dalam menjelaskan kepada masyarakat tentang proses penegakan aturan. Selain itu, proses keberatan yang rumit dan panjang juga dinilai memberatkan masyarakat.

Pelajaran yang Bisa Diambil

Kasus-kasus ini menjadi pengingat bagi Bea Cukai untuk meningkatkan transparansi dan komunikasinya dengan masyarakat. Bea Cukai juga perlu mempermudah proses keberatan bagi masyarakat yang merasa dirugikan.

Di sisi lain, masyarakat juga perlu lebih proaktif dalam mempelajari aturan bea masuk dan pajak sebelum berbelanja online dari luar negeri.

Nah, kamu sendiri bagaimana menilai peristiwa yang sedang viral ini? Tulis pendapatmu di kolom komentar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (1) in /home/kalasela/public_html/wp-includes/functions.php on line 5427

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (1) in /home/kalasela/public_html/wp-includes/functions.php on line 5427