Babad Tanah Lasem

Kisah tentang sejarah dan budaya Lasem

Lasem kita kenal sebagai salah satu kecamatan di Kabupaten Rembang. Salah satu ikon yang terkenal adalah batik Lasem. Lasem juga erat kaitannya dengan Kerajaan Majapahit, Kerajaan Campa, dan Negeri Tiongkok.

Cerita ini dikisahkan berdasarkan kitab babad Badra Santi karangan Mpu Santibadra (1432 – 1527), Carita (Sejarah) Lasem (tahun 1920) karya Panji Karsono, dan sebagian dari wikipedia.

Sejarah Berdirinya Kerajaan Lasem

Pada tahun 1345 Masehi, Kutha Lasem dipimpin oleh Akuwu Mpu Metthabadra dengan aman dan damai karena terbebas dari penjajahan bangsa lain. Namun, pada masa Kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Prabu Hayam Wuruk, Akuwu Mpu Metthabadra dikalahkan oleh pasukan Gajah Mada sehingga kekuasaan Lasem jatuh ke tangan Majapahit.

Masa Pemerintahan Bhre Lasem I

Pada tahun 1351 Masehi (1273 saka), Dewi Indu (adik sepupu Prabu Hayam Wuruk) dianugerahi kekuasaan sebagai ratu di kerajaan Lasem dan diberi gelar Bhre Lasem I, dengan pusat pemerintahan berada di Bhumi Kriyan, dataran sebelah barat Pegunungan Lasem. Pada masa ini, Lasem merupakan negeri yang damai, aman, tentram, adil dan bijaksana.

Bhre Lasem I menikah dengan seorang Adipati Mataun sekaligus merupakan panglima perang angkatan laut Kerajaan Majapahit yaitu Pangeran Rajasawardana. Mereka berdua hidup rukun sampai akhir hayat.

Wilayah kekuasaan Lasem saat itu bisa dibilang setengahnya Pulau Jawa, mulai dari Pacitan dan sepanjang Sungai Genthong sampai pertemuan Sungai Silungangga di Pangkah Sidayu. Penduduk Lasem beragama Syiwa dan Buddha, namun mereka tetap bertoleransi sehingga menciptakan kedamaian.

Lasem saat itu tampak sejuk dan asri, dengan pepohonan hijau membentang sejauh mata memandang. Dikelilingi laut, hutan, bukit, dan gunung yang menjulang. Hewan-hewan berlarian dan burung-burung bernyanyi dengan merdu. Ukiran pada rumah-rumah joglo semakin menambah keindahan Kerajaan Lasem.

Bhre Lasem I meninggal pada tahun 1304 saka, sedangkan suaminya meninggal setahun kemudian. Abu mereka dibuatkan candi di Gunung Argasoka sebelah utara.

Keturunan Bhre Lasem I

Bhre Lasem I dan Pangeran Rajasawardana, memiliki putra bernama Pangeran Badrawardana. Pangeran Badrawardana memiliki putra, Pangeran Wijayabadra.

Pada masa Pangeran Wijayabadra inilah, datanglah para penduduk dari Campa dan Tiongkok. Mereka bermukim dan menetap di Lasem, diantaranya adalah Bi Nang Un (dari Campa) dan Cheng Ho (dari Tiongkok). Akibatnya, terjadi perpaduan budaya dari tiga negeri (Lasem, Campa dan Tiongkok) sehingga menghasilkan suatu karya seni yang luar biasa, salah satunya batik Lasem.

Masa Pemerintahan Bhre Lasem II – V

Sepeninggal Bhre Lasem I, kekuasaan diambil alih oleh Kusuma Warhani (putri Prabu Hayam Wuruk) dan bergelar Bhre Lasem II. Bhre Lasem II menikah dengan putra dari Bhre Lasem I yaitu Pangeran Badrawardana. Selanjutnya pemerintahan dilanjutkan oleh Negara Wardhani (putri Bhre Lasem I) dan bergelar Bhre Lasem III. Kemudian dilanjutkan oleh Bhre Lasem IV, istri Bhre Tumapel. Lalu dilanjutkan oleh putra Bhre Pandan Salas yang bergelar Bhre Lasem V.

Masa Pemerintahan Pangeran Badranala

Setelah Bhre Lasem V lengser, Kerajaan Lasem dipimpin oleh Pangeran Badranala, yang merupakan putra Pangeran Wijayabadra. Pangeran Badranala menikah dengan Putri Campa, Bi Nang Ti, dan memiliki dua putra yaitu Pangeran Wirabraja dan Pangeran Santibadra.

Masa Pemerintahan Pangeran Wirabraja/Wiranegara

Sepeninggal Pangeran Badranala, Lasem dipimpin oleh Pangeran Wirabraja, yang bergelar Pangeran Wiranegara, sekaligus merupakan menantu Sunan Ampel. Pada tahun 1391 saka, Pangeran Wiranegara memindahkan pusat pemerintahan ke Bhumi Bonang Binangun. Sedangkan Pangeran Santibadra dan keturunannya menempati Bhumi Kriyan.

Pada saat pemerintahan Pangeran Wiranegara inilah, mulai banyak penduduk Lasem yang memeluk islam. Terutama para pedagang dari Tuban, Gresik, dan Ngampel. Pangeran Wiranegara hanya memerintah selama 5 tahun, kemudian meninggal pada tahun 1401 saka.

Masa Pemerintahan Putri Malokhah

Sepeninggal Pangeran Wiranegara, pemerintahan dilanjutkan oleh istrinya bernama Putri Malokhah, janda muda berusia 29 tahun. Putri Malokhah adalah putri dari Sunan Ampel. Dalam mengatur kerajaan, Putri Malokhah dibantu oleh Pangeran Santipuspa (iparnya) sehingga tidak terjadi bencana dan huru-hara dan berhasil membawa kerajaan dalam keadilan dan kebijaksanaan.

Pada masa ini, pusat pemerintahan dipindah kembali ke Bhumi Kriyan. Putri Malokhah meninggal pada usia 39 tahun tanpa pernah menikah kembali.

Kedatangan Kompeni Belanda

Ratusan tahun sepeninggal Putri Malokhah dan Pangeran Santipuspa, Belanda datang. Pada masa ini, Kekuasaan Kerajaan Lasem diambil alih oleh Kompeni Belanda Semarang. Pada masa ini juga, nama Putri Malokhah dan Putri Campa Bi Nang Ti dibuat jelek oleh mereka.

Kerajaan Lasem akhirnya berganti status menjadi Kadipaten Lasem pada abad ke-15. Belanda mengangkat Bupati Suroadimanggolo III sebagai pemimpin pertama kadipaten ini. Segala peninggalan Kerajaan Lasem seperti kitab-kitab kuno dan bangunan bersejarah dihancurkan. Salah satu yang masih tersisa adalah Kitab Badra Santi yang disimpan di rumah Raden Panji Margono, yang merupakan keturunan dari raja-raja Lasem.

Lasem Menjadi Bagian dari Kabupaten Rembang

Dulunya, Rembang merupakan bagian dari kekuasaan Kerajaan Lasem. Pada tahun 1680, keduanya berada dibawah kekuasaan Kerajaan Mataram Islam. Pada masa ini juga terjadi pemberontakan Trunajaya III antara Lasem melawan Amangkurat II (Raja Mataram Islam) yang bersekutu dengan VOC. Akhirnya lasem kalah, sehingga VOC mengambil alih Lasem.

Pada tahun 1682, Rembang berubah menjadi kabupaten. Pada tanggal 27 Juli 1741 merupakan hari jadi Kabupaten Rembang yang pertama. Pada tahun 1743, Lasem berubah menjadi distrik dan bergabung menjadi bagian dari Kabupaten Rembang