Antara BANGKIT, MADANI, dan GEMILANG

Mencari Motto Kabupaten yang sesungguhnya

Setiap kali memasuki suatu daerah biasanya akan disambut oleh gerbang masuk kota yang bertuliskan nama daerah didampingi dengan motto kotanya. Ambil contoh untuk daerah di kawasan pantura, mulai dari Demak hingga Rembang masing-masing memiliki motto daerahnya sendiri. Demak Beramal, Kudus Semarak, Pati Bumi Mina Tani, dan Rembang Bangkit. Semua motto tersebut dipasang dengan rapi bersanding dengan nama daerah sebagai penanda bahwa daerah tersebut memiliki identitas dan jatidiri. Jadi, masing-masing daerah memiliki motto yang unik dan berbeda dengan daerah lain. Sebagai jati diri suatu daerah, motto dirancang untuk jangka waktu yang lama dan jika perlu tidak mengalami perubahan. Lalu bagaimana jika suatu daerah sering mengganti mottonya? Apakah ia lantas kehilangan jatidiri?

Kata Bangkit Mulai Terganti

Pertanyaan ini muncul setelah beberapa waktu yang lalu mendapati bahwa di halaman depan website rembangkab.go.id tak ada kata “Bangkit” yang mendampingi kata “Rembang”, justru kata “Gemilang” yang kini bersanding untuk dijadikan sebagai visi Kabupaten Rembang. Memang belakangan ini kata gemilang jauh lebih eksis dibandingkan dengan kata bangkit itu sendiri. Entah kebetulan atau tidak, yang jelas kata tersebut sangat mirip dengan slogan yang digaungkan oleh pasangan pemenang pilkada tahun lalu. Hal inilah yang membuat susah untuk tidak berpikir bahwa imbas kontestasi pilkada tahun lalu masih sangat terasa.

Sebenarnya tidak masalah jika kata gemilang tersebut hanya menjadi visi program kerja kepemimpinan yang sekarang. Akan tetapi, yang terjadi saat ini adalah kata “Rembang Gemilang” mulai menggeser “Rembang Bangkit “sebagai motto asli Kabupaten Rembang. Seakan-akan memang motto Kabupaten Rembang telah berubah menjadi “Rembang Gemilang”.

Kata Bangkit Masih Relevan

Beberapa tahun lalu juga sempat muncul wacana mengganti motto dari “Rembang Bangkit” menjadi “Rembang Madani”. Wacana ini muncul karena dianggap kata “Bangkit” sudah tidak relevan lagi dan harus diganti dengan sesuatu yang baru. Padahal jika melihat rujukan historis yang tertuang dalam perda tahun 1992 , maka kata “Bangkit” akan selalu tepat untuk berbagai fase kemajuan yang ingin dan akan diraih. Dengan kata lain tidak perlu adanya perubahan motto karena memang “Rembang Bangkit” adalah motto yang paling sesuai sebagai identitas dan jatidiri Kabupaten Rembang. Dan bukankah seharusnya jatidiri itu dipertahankan dan dijaga?

Saya masih teringat ketika waktu itu lagu Rembang Bangkit menjadi lagu wajib disetiap perlombaan menyanyi dan di perlombaan musik tong-tongklek. Lagu ini menceritakan semangat dan kesatuan antara motto daerah dengan kehidupan masyarakat Rembang. Dapat dikatakan bahwa dalam lagu ini, motto Kabupaten Rembang bukan hanya sekedar motto tanpa dasar melainkan motto yang tercipta dari olah pikir dan jiwa masyarakat Rembang turun –temurun.

Kata Gemilang Tidak Unik Lagi

Lagi pula misalkan kata “Gemilang” benar-benar dijadikan sebagai motto resmi Kabupaten Rembang apakah sudah tepat? bukankah sebuah motto itu harus unik dan lain dari yang lain? Sejauh yang saya ketahui,  kata “Gemilang” telah menjadi motto Kabupaten Magelang sejak lama. Jadi menurut pandangan saya, pemakaian kata “Gemilang” sebagai motto Kabupaten Rembang perlu ditinjau ulang jika memang saat ini kata “Gemilang” difungsikan untuk mengganti kata “Bangkit”. Tetapi jika baru sebatas rencana maka alangkah lebih baik untuk menyusun kata baru sebagai motto yang benar-benar mewakili Kabupaten Rembang.

 

Foto oleh Priambodo B.

 

Selain itu, alangkah baiknya juga jika dalam penyusunannya mendengarkan aspirasi masyarakat karena motto daerah bukan sebagai slogan yang tiba-tiba muncul untuk program pemda semata. Akan tetapi lebih berfungsi sebagai identitas budaya dan jatidiri masyarakat Rembang.

Terlepas dari semua hal diatas, saya meyakini bahwa tak ada yang lebih baik  jika dibandingkan dengan “Rembang Bangkit” sebagai motto Kabupaten Rembang yang sesungguhnya.(-Mahiza-)